Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Ajarkan karakter bangsa melalui tari

Ajarkan karakter bangsa melalui tari

Jogja-KoPi| “Tari bukan hanya bentuk yang disuapkan melainkan ajaran yang diajarkan secara kreatif”, ujar Dra. Gusyanti, M.Pd pada Gebyar Seni dan Talk Show PGMI UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (7/1).

Banyak pengajar yang salah dalam mengartikan tari. Tari hanya dikenalkan dalam bentuk fisiknya saja, namun mengenai tujuan, arti, dan makna kadang terlupakan. Padahal, tari sangat berkaitan dengan karakter bangsa Indonesia. Mengajarkan tari sama halnya dengan mengajarkan karakter bangsa. 

Tari terdiri dari adaya gerak, ruang, iringan, dan estetika. Tari menciptakan sebuah kemudahan dalam memaknai sesuatu. Anak akan lebih mudah memahami suatu hal melalui tari, baik dari alam dan lingkungan, serta dapat dengan mudah menangkap pengajaran karakter bangsa yang diajarkan. 

“Anak pada saat ini lebih sulit dalam mengenali lingkungannya, mereka lebih mudah mengenali gadget,” jelas Dra. Gusyanti, M.Pd.

Gadget menjadi ancaman tersendiri bagi lunturnya karakter bangsa Indonesia. Tanpa adanya metode pengajaran yang pas dalam mengajarkan karakter bangsa tentu akan dengan mudah anak-anak bangsa kehilangan karakternya. 

Karakter egois, individualis, pragmatis, hedonis, konsumtif hingga perilaku kriminal akan dengan mudah menyerang anak bangsa. “Contohnya anak-anak SMP Jogja yang melakukan tindakan klitih, mereka pasti tidak memiliki karakter bangsa”, papar Dra. Gusyanti, M.Pd.

Tari dapat menjadi media pengajaran karakter bagi peserta didik. Peserta didik dapat diajarkan untuk menciptakan sebuah tari sederhana baik dalam kegiatan ekstrakuler maupun dalam pelajaran kelas. Proses penciptaan ini dimulai dengan pencetusan ide, pendalaman gagasan, perwujudan gagasan dan komunikasi karya.

“Pencetusan ide dapat mengajarkan kemandirian bagi anak didik. Kemudian pendalaman gagasan akan membuat anak didik menjadi lebih kreatif, begitu juga dengan perwujudan gagasan”, jelas Dra. Gusyanti, M.Pd.

Selain itu, tari juga mengajarkan bekerja sama serta tanggung jawab. Menurut Dra. Gusyanti, M.Pd., tari merupakan sebuah seni yang kebanyakan dimainkan secara kelompok. 

“Kelompok akan mengajarkan anak didik pada nilai kerja sama untuk mencapai kesuksesan. Tari juga mengajarkan tanggung jawab, karena tari membutuhkan kekompakan. Sebuah tari tidak akan terlihat kompak ketika dari salah satu anggota memiliki sikap egois, begitu juga dengan sikap tanggung jawab,” jelasnya. |Syidiq S Ardlie|

back to top