Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

13 PTS Anggota APTIK Kolaborasi Pengabdian Masyarakat di Gunungkidul

uajy2
Sleman-KoPi| Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bekerja sama dengan 13 (tiga belas) PTS yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) seluruh Indonesia melaksanakan pengabdian kepada masyarakat (Student Camp) di Pedukuhan Karang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Ketiga belas PTS anggota APTIK tersebut adalah: Universitas De Lasalle Manado, Stikes Stella Maris Makasar, Universitas Atma Jaya Makasar, Universitas Widya Mandala Surabaya, Universitas Dharma Cendika Sidoarjo, Universitas Widya Karya Malang, Universitas Widya Mandala Madiun, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Universitas Katolik Musi Caritas Palembang, Universitas Santo Thomas Medan, sedangkan UAJY bertindak sebagai tuan rumah.

Kehadiran 44 mahasiswa PTS anggota APTIK dalam rangka pengabdian kepada masyarakat tersebut melaksanakan kegiatan pengerasan jalan sepanjang 700 meter dengan lebar 5 meter, pelatihan sablon bagi karang taruna, pembuatan pupuk dan pengawetan pakan ternak, pelatihan teknis instalasi air dengan tenaga surya, serta pembentukan organisasi pengelola air.

Sedangkan ketrampilan membatik merupakan kelanjutan pelatihan terdahulu dalam kegiatan pengabdian masyarakat Tahun 2016/2017 oleh UAJY. Pelatihan keterampilan ini ditujukan kepada semua komponen masyarakat, termasuk Karang Taruna dengan harapan sebagai satu alternatif pengembangan ekonomi untuk meningkatkan penghasilan masyarakat.

Bupati Gunungkidul, dalam hal ini diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan, drh. Krisna Berllian mengungkapkan bahwa selama ini masyarakat Padukuhan Karang sudah merasakan dampak positif dari kemitraan yang terjalin antara UAJY dan masyarakat setempat melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi daerah.

“Visi yang diupayakan untuk diwujudkan yaitu menjadi Daerah Tujuan Wisata Tekemuka dan Berbudaya, Menuju Masyarakat yang Berdaya Saing, Maju, Mandiri dan Sejahtera 2021. Mengingat hal itu maka saya menyambut positif atas kepedulian UAJY dan PTS Anggota APTIK lainnya yang lebih memprioritaskan pada kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Daya saing ini akan memungkinkan masyarakat berperan dan berkontribusi lebih nyata dalam pengembangan produktivitas beragam potensi lokal sehingga akan mampu memberikan nilai ekonomis maupun sosial,” ujar Krisna.

Sementara itu, Rektor UAJY, Dr. Gregorius Sri Nurhartanto, SH. LL.M. dalam sambutannya memaparkan bahwa melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan bangsa bisa mempraktikkan ilmu pengetahuan sekaligus menghidupi budaya toleransi yang dalam era ini semakin terdesak.

“Dalam konteks kebudayaan kita, nilai-nilai esklusivisme dan anti-kebhinekaan sekarang ini, tengah tumbuh subur, segala ruang didikte untuk sekedar melayani kehendak pasar. Bahkan para aktor di dalam dunia pendidikan berbasis pedagogi neo-liberal dibentuk untuk menyepakati bahwa orientasi aktivitas pendidikan hanyalah petumbuhan ekonomi, mekanisme pasar, dan persaingan hidup yang berbasis logika ekonomi.

Dalam arus besar yang menempatkan pasar sebagai panglima, nilai-nilai seperti solidaritas kemanusiaan, gotong royong, dan keadilan sosial, menguap ke udara. Untuk itulah para mahasiswa harus mampu menyumbang peran atau bahkan mengedukasi masyarakat, terutama dengan keteladanan, untuk membentuk warga negara yang peduli terhadap yang lain,“ jelas Nurhartanto.

back to top