Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tuna netra bisa asal diberi kesempatan...

Tuna netra bisa asal diberi kesempatan...

Jogjakarta-KoPi| Ketika koranopini.com masuk ke sekolahan Yaketunis (Yayasan Tuna Netra Islam) suasananya sepi. Semua ruangan kelas tertutup hanya ruang guru yang terbuka. Beberapa guru kelas di dalamnya sibuk mengerjakan tugas. Sementara guru yang lain tengah sibuk mengajar di kelas. Termasuk guru narasumber yang koranopini.com tunggu, masih mengajar B. Indonesia.

Sayup-sayup suara Siti Sa’adah terdengar dari luar ruang kelas. Wanita 40 tahun itu tengah asyik mengajar empat muridnya. Dia membacakan materi pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII. Sesekali suaranya bercampur dengan canda tawa dari muridnya. Ketika salah seorang murid perempuan menyela saat penjelasan materi pelajaran.

Suasana keakraban mengalir begitu hangat. Kehadiran Siti Sa’adah di tengah muridnya bak seoarang ibu sedang mengajarkan anak-anaknya. Dengan sabar dia membaca materi pelajaran berulang-ulang. Bila salah satu belum paham, dia jelaskan secara intensif.

“ Kuncinya mengajar itu kudu sabar,” jelas wanita sarjana konseling itu kepada koranopini.com.

Siti mengakui membutuhkan tenaga ekstra untuk mengajar anak-anak tuna netra. Sehari bisa mengajar 5-7 jam. Dengan rata-rata seminggu 31 jam. 

Selama 13 tahun Siti mengajar di Yaketunis. Siti yang juga seorang tuna netra menjalani profesinya sebagai wujud pengabdian.

Selama waktu yang terbilang lama tersebut, Siti telah mengalami banyak kendala. Namun Siti memandang kendala hal biasa yang bisa diselesaikan.

Dalam aspek anak, sebenarnya tidak ada perbedaan antara anak tuna netra dengan anak ‘awas’ yang bisa melihat normal. Perbedaan terletak pada model pembelajaran yang lebih intensif. Serta kelengkapan sarana dan alat peraga pembelajaran.

Seperti pelajaran biologi ada kesusahan bagi anak tuna netra. “ Kalau anak tuna netra, alat peraganya didikte, agak susah, yang penting anak mau belajar ya bisa,” papar wanita yang hobi membaca novel itu.

Namun Siti menyayangkan seringkali kendala anak tuna netra berkembang justru dari orang tuanya. Orang tua masih berpikiran klasik bahwa anak tuna netra tidak bisa apa-apa. Padahal kalau diberi kesempatan dan dukungan, anak tuna netra bisa berkembang.

“ Saya yang guru BK, bukan susah ngurusin anak-anak yang nakal, rook atau narkoba, tapi nasehatin orang tua yang itu ( kurang mendukung anaknya yang tuna netra untuk bisa sekolah,” pungkas Siti.

|Winda Efanur FS|Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next