Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tebing Breksi dan nasib 23 penambang liar..

Tebing Breksi dan nasib 23 penambang liar..

Sleman-Kopi| Setelah peresmian pada Maret lalu, masyarakat semakin mengenal objek wisata Tebing Breksi. Apalagi tempatnya yang strategis di Desa Sambirejo satu jalur dengan Candi Ijo. Pengunjung akam mudah mengakses objek satu paket wisata dengan Candi Ijo.

Lambat laun unggahan foto para pengunjung di media sosial meningkatkan pamor Tebing Breksi. Sebagai objek wisata baru di Jogja. Eksplorasi utama objek wisata ini, dengan suguhan alam tebing alami dan panorama Jogja dari atas ketinggian.

Namun di sisi barat aktivitas penambang kapur masih berlangsung. Koranopini.com sempat mengamati sisi bawah sebelah barat terdapat banyak genangan air hasil dari cekungan yang digali penambang. Beberapa bongkah kapur yang sudah dicetak tertata rapi. Terlihat siap untuk diambil oleh penjual.

Hal ini sangat berseberangan dengan komitmen Dinas Pariwisata DIY untuk memperbaiki fasilitas dan keamanan di objek wisata.

Komitmen Dinpar DIY mengubah Tebing Breksi sebagai tempat wisata ini, mendapat pertentangan dari kalangan penambang.

Salah satu penambang Bagong asal Desa Sambirejo mendapat instruksi pelarangan penambangan areal baru di Tebing Breksi. Aktivitas penambang dibolehkan untuk sisa areal yang sudah ditambang.

"Ini masih boleh yang bagian bawah saja, yang ke atas-atas tidak boleh," jelas Bagong.

Bagong dan 23 penambang lokal Tebing 'kapur' Breksi bertahan hidup dengan hasil menambang.

Aktivitas tambang Tebing Breksi berlangsung selama hampir 20 tahun. Diakui oleh Bagong, pekerjaan tambang penuh dengan resiko. Keterbatasan alat tambang tidak bisa menjamin keselamatan.

"Saya menambang baru 10 tahun, dulu yang di atas pakai alat yang ada, naik sendiri, talinya diikat sendiri. Kita kerja sendiri-sendiri,"tambah Bagong.

Bagong mengaku terpaksa bekerja sebagai penambang ilegal demi mencukupi kebutuhan ekonomi. Hasil satu biji kapur yang sudah dicetak hanya Rp 10.000 belum dipotong uang angkat. Sehari Bagong bisa menghasilkan sekitar lima biji kapur.

"Demi anak dan istri kalau ga begini, makan apa?,"kata Bagong.

Bagong mendukung rencana Dinpar untuk menjadikan Tebing Breksi tempat wisata. Namun Pemda juga harus memberikan alternatif pekerjaan untuk para penambang.

"Bisa bagus kayak gini (pahatan tebing), karena penambang yang buat (setelah jadi ditutup)," keluh Bagong.

Sementara warga setempat, Kasyadi menegaskan pembukaan Tebing Breksi tidak akan mematikan mata pencaharian penambang.

"Ga, bermasalah, penambang masih bisa di sana (sisi timur),"paparnya. |Winda Efanur FS|Frenda Yentin|Cucuk Armanto|

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next