Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Tari tradisional "Trengganon" paduan syair Al-Barzanji dengan silat

Jogjakarta-KoPi| Seiring perkembangan zaman telah memupus kecintaan masyarakat terhadap budayanya. Hal itulah yang mendasari Dinas Kebudayaan memperbanyak event bertajuk ‘kembali’ pada budaya. Salah satunya acara festival seni di Pendopo Taman siswa (11/6) pukul 11.30 WIB. Acara ini bentuk revitalisasi kesenian tradisonal Jogjakarta khususnya seni tari. Fstival berlangsung selama dua hari sejak tanggal 11-12 Juni 2015.

Menurut ketua panitia, Noor Sulistyo mengatakan festival bertujuan untuk merevitalisasikan seni tari tradisional yang telah lama terlupakan oleh masyarakat.

Dia mengaharapkan festival seni ini mampu membangkitkan kembali gairah kesenian masyarakat terutama anak muda untuk mengenal seni tradisional.

“ Acara ini diikuti oleh 15 grup dari kota dan kabupaten. Salah satunya ada penampilan tari gambyong, jathilan, bedaya, dan banyak lainnya. Festival ini hanya menampilkan yang terbaik. Juga ada juri agar tidak keluar dari pakem-pakem yang ada”, papar Noor.

Salah satu penampil dari Sanggar Al-Fattah asal Parakan Wetan, Sendang Sari, Minggir, Sleman mengakui inisiatif disbud menggelar festival tari sangat positif. Upaya untuk melestarikan kesenaian agar tidak punah.

Sanggar Al-fattah menampilkan kesenian Trengganon, suatu tarian yang memadukan syair Al-Barzanji dengan gerakan silat. Menurut kepala grup Kodari memaparkan tarian ini awalnya bertujuan agar masyarakat tertarik dengan Islam.

“ Kesenian Trengganon sejak tahun 1930 bernafaskan agama Islam, kesenian untuk pembelajaran Islam. Dengan dua kelompok sebagian membaca Al-barzanji, satunya lagi memperagakan silat denan tarian”, tutur Kodari.

Kodari menambahkan masyarakat terutama pemda perlu melestarikan kesenian ini, pasalnya tari Trengganon tinggal satu-satunya yang ada di DIY. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next