Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Tanggul jebol, warga Mergangsan khawatir longsor

Tanggul jebol, warga Mergangsan khawatir longsor

Jogjakarta-KoPi| Salah satu warga Surokarsan, Wirogunan, Mergangsan, Sugiharyanto mengharapkan pemerintah kota Jogja memperbaiki rusaknya tanggul penahan banjir. Kampung Surokarsan yang berlokasi di pinggiran Sungai Code mempunyai tanggul penahan banjir, namun selepas banjir pada April tahun 2015 lalu tanggul tersebut jebol.

Sugiharyanto menambahkan hingga kini belum ada pejabat pemerintah kota memperbaiki tanggul. Padahal intensitas air hujan meningkat selama pekan terakhir. Hal ini membuat warga khawatir terjadi tanah longsor.

"Tanggulnya jebol, hingga kini belum diperbaiki. Entah karena masalah apa kita tidak tahu, mungkin tidak adanya anggaran dari pemerintah,"jelas Sugiharyanto.

Sementara warga lain, Tugiman menjelaskan warga sempat menyampaikan ke pihak pemerintah seperti DPRD perwakilan Mergangsan terkait permasalahan tanggul. Saat itu DPRD tersebut akan menindaklanjuti aspirasi warga. Namun realisasinya setahun berlalu pemerintah belum memperbaiki tanggul.

Sebagai antisipasi banjir warga bergotong royong membuat penahan banjir tradisional. Mereka mengisi ratusan karung dengan pasir yang diletakan di bibir Sungai Code.

"Setelah banjir tahun lalu, tanggul jebol. Warga gotong royong membuat karung yang diisi pasir agar tidak masuk ke wilayah Timur," kata Tugiman.

Selain masalah tanggul jebol, warga juga menyayangkan Early Warning System (EWS) yang tidak berfungsi saat banjir tahun lalu.

"Warga kaget, banjir datang tiba-tiba. EWS tidak berbunyi. Padahal tahun-tahun yang sempat bunyi,"tambah Tugiman.
Soal EWS pun, Tugiman mengaku pasrah. “Mungkin pas rusak kemarin, ini pasrah EWS ini juga belum diperbaiki,” pungkas Tugiman.  |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next