Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Stop ekspor, Pemerintah berniat membangun industri gas domestik

Stop ekspor, Pemerintah berniat membangun industri gas domestik

Jogjakarta-KoPi| Gubernur OPEC Indonesia, Dr. Widhyawan mengatakan pemerintah kini berkomitmen akan memajukan industri gas dalam negeri. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 tahun 2014 kebijakan energi berubah dari energi sebagai komoditi menjadi modal untuk pembangunan.

Orientasi pemanfaatan engergi gas untuk pasar domestik bukan lagi ekspor. “Saat ini pun banyak kontrak yang sudah tidak diperpanjang lagi,” jelas Dr. Widhyawan Prawiraatmadja disela seminar Optimasi Alokasi Gas Keperluan Domestik untuk Pengembangan Industri Nasional pada tanggal 11 Februari 2016.

Namun Dr. Widhyawan menyayangkan infrastruktur dalam negeri belum sepenuhnya dapat mengelola energi gas. Pada beberapa sektor yang tidak bisa tertangani oleh pengelola domestik, energi gas akan diekspor.

"Yang tidak dikuasai oleh domestik akan diekspor,"tambah Dr. Widhyawan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Panut Mulyono, keinginan mengembangkan industri gas di dalam negeri, secara simultan optimalisasi industri gas akan menggandeng industri minyak dan industri petrokimia.

Tren pengembangan simultan ini mengadopsi pola pengelolaaan gas di negara Eropa.
"Ke depan dioptimasi berapa gas yang dijual, dan pengembangan industri dalam negeri,"kata Prof. Panut.

Sementara Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka, Kementrian Perindustrian RI, Ir. Harjanto mendukung program pengembangan industri gas dalam negeri. Pengembangan ini bermanfaat untuk menjadikan nilai tambah terhadap pemanfaatan energi gas. pasalnya cadangan energi gas akan semakin berkurang.

"Kita membutuhkan gas yang comfortable untuk industri, soalnya 50% ke ekspor, sementara di Aceh sudah habis. Kalau gas dimanfaatkan industri dalam negeri bisa bertahan 40 tahun,"jelas Ir. Harjanto. |Winda Efanur FS|Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next