Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Sabda semata wahyu, Sultan : saya tidak apa-apa dibenci adik-adik

Sabda semata wahyu, Sultan : saya tidak apa-apa dibenci adik-adik

Jogjakarta-KoPi| Setelah sempat menjadi polemik internal keluarga kraton akhirnya Sultan Hamengkubawono mengkalrifikasi keluarnya sabda. Semua keluargakraton dan elemen masyarakat hadir dalam konferensi pers yang diadakan di NdalemWironegaran pukul 16.30-18.00 WIB.

Sultan mengajak masyarakat memahami sabda dengan hati bukan dengan pikiran. Adanya berita media yang beredar cenderung diplintir dan dipolitisasi dari makna sabda sebenarnya.

Didampingi istri GKR Hemas sultan menjelaskan sabda sekitar 30 menit. Poin penting isi sabda sultan. Sultan menegaskan sabdatama yang dia ucapkan berdasarkan tuntunan wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa.
Beberapa poin penting dari isi sabda sultan. Pertama, penghilangan assalamulaykum bukan berarti dilarang mengucapkan assalamulaykum di kraton. Kedua, perubahan nama Buwono menjadi Bawono. Pasalnya Buwono memiliki lingkup kecil. Sedangkan Bawono lingkupnya besar.

Ketiga, perubahan kata kaping sepuluh. Dasar sepuluh kasapuluh tidak bisa disebut sedasa. “Tidak bisa disebut sedasa, kaping sepuluh karena kaping- kuwi perhitungan tambahan.Terusan dari satu, dua,tiga”, papar sultan.
Keempat, tentang gelar "Khalifatullah Sayidi" diganti dengan "Langgenging Toto Panotogomo" masih tetap menjalankan perintah Tuhan YME,hanya mengganti khalifatullah tetapi maksudnya sama.

“ Perubahan nama sesuai keadaan. Keadaan sekarang tidak bisa dianggap mudah seperti raja sebelumnya karena sudah berubah zaman”, papar sultan.
Dalam hal ini sultan menangkis anggapan beberapa pihak mengenai keluarnya sabda yang dianggap mendadak. Menurut sultan segala sabda yang diucapkan berdasarkan wahyu dari Tuhan YME.

“ Tidak ada perkara mendadak, sehingga semua dawuh (perintah) itu tidak boleh disepelekan karena dawuh dari gusti Allah. Karena saya takut dengan siksanya, saya tidak peduli dengan dibenci sama adik-adik sama orang-orang yang tidak mengetahui sabda raja ,karenaitu tadi wahyu dari gusti Allah yang maha kuasa”, pungkas Sultan. |Winda EfanurFS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next