Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Saatnya Indonesia rundingkan ulang perbatasan dengan Australia

IMG 20180215 104024 097

Kupang-KoPi| Kesepakatan batas periaran antara Australia dan Timor Leste di Laut Timor yang ditandatangani di markas PBB, New York telah mengakhiri perselisihan panjang kedua negara atas isu ini.

"Saat ini adalah momentum yang paling tepat bagi Indonesia untuk membatalkan seluruh perjanjian perbatasan RI-Australia di Laut Timor dan Laut Arafura".

"Kemudian dirundingkan kembali secara trilateral bersama Timor Leste dengan menggunakan prinsip median line (garis tengah) sebab hukum internasional telah banyak berubah dan kini lebih mendahulukan median line, dan bukan lagi landas kontinen".

"Suka atau tidak Australia harus mengizinkan Indonesia untuk mengklaim hak atas kekayaan minyak dan gas di Laut Timor yang telah dinikmati oleh Australia untuk kepentingan nasional nya".

Hal ini disampaikan Pengemban Mandat Hak Ulayat Masyarakat Adat di Laut Timor,Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang Rabu,(7/03)

Tanoni,penulis Buku Skandal Laut Timor,Sebuah Barter Politik Ekonomi Jakarta-Canberra (2008) ini dikenal tanpa lelah memperjuangkan perundingan ulang batas perairan RI-Australia di Laut Timor dan Laut Arafura sejak pertengahan tahun 1990’an.

Ia mengatakan , "batas laut Australia dan Indonesia disepakati pada 1972,kemudian pada tahun 1997 (yang belum diratifikasi) itu, sebagian besar batas laut Australia didasarkan pada landas kontinen, yang jauh melampaui batas rata-rata dan sangat dekat dengan garis pantai pulau-pulau Indonesia".

Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982,kata Tanoni misalnya menetapkan bahwa "dimana pantai dua negara berhadapan atau berdekatan satu sama lain, kedua negara tidak berhak untuk memperluas laut teritorialnya melampaui garis pertengahan”.

"Akan tetapi Australia secara licik mempercundangi Indonesia dan menguasai sekitar 85 % wilayah Laut Timor yang kaya raya akan sumber daya mineral termasuk minyak dan gas bumi", tambah nya.

Tanoni,mantan agen imigrasi Australia ini mengatakan bahwa alasan lain yang mendasar untuk dirundingkan kembali batas perairan RI-Australia karena perbatasan baru antara Australia dan Timor Leste menempatkan batas laut nya di titik tengah sehingga akan bertumpang tindih dengan perbatasan yang Ada dengan Indonesiaa

"Atas nama rakyat Indonesia di Timor Barat dan demi hak,harkat,martabat dan kedaulatan NKRI mendesak Pemerintah Indonesia untuk menegosiasikan ulang perbatasa laut kedua Negara segera,tanpa harus ditunda tunda" kata Ferdi Tanoni.

"Kami rakyat Indonesia di Timor Barat sangat menghargai hubungan baik RI-Australia,bahkan bagi kami,selain berdekatan secara geografis ditambah dengan hubungan panjang sejarah masa lalu antara rakyat Timor Barat dan rakyat Australia,sehingga bagi kami Australia bukan saja tetangga terdekat kami,akan tetapi lebih dari itu kami merasa Australia sebagai saudara dan saudari kami"…

Akan tetapi perlakuan Pemerintah Australia terhadap kami yang sangat licik dan curang ini haruslah dihentikan dan Australia harus secara jujur mengembalikan hak-hak kami yang selama ini dinikmati Australia.(Leo).

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next