Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Romo Banar : RUU Kebudayaan belum bisa menjawab kebudayaan saat ini

Romo Banar : RUU Kebudayaan belum bisa menjawab kebudayaan saat ini

Jogjakarta-KoPi| Guru Besar UGM Prof. Faruk Tripoli mengkritik RUU Kebudayaan belum bisa menjawab pemasalahan kebudayaan saat ini. “Apa bisa pengertian kebudayaan dari Kuntjoroningrat dari tahun 1970an, untuk membicarakan detil pengembangan budaya hingga industri kebudayaan,” jelas Prof. Faruk Tripoli saat diskusi diskusi publik RUU Kebudayaan ‘Mempertajam Arah dan strategi Pengembangan Kebudayaan Indonesia’ di Fisispol UGM pukul 10.00 Wib.

Hal senada juga diungkapkan oleh Budayawan Romo Banar. Romo Banar menjelaskan paradigma kebudayaan 1970an tidak bisa mencakup situasi pemahaman kebudayaan yang lebih aktual.

Menurut Romo Banar sejatinya Komisi X DPR RI mengidentifikasi persoalan-persoalan kebudayaan terlebih dahulu. Kemudian dikonsepkan rumusan solusi yang menjawab persoalan secara tepat.

“Sebuah peraturan kebudayaan, masuk bicara pada wilayah krisis, situasi perlu menegaskan identitas, itu semangat. Tidak langsung pada pengaturan UU ini, tapi bagaimana memahami dulu, ini yang luput, salah proses,” jelas romo Banar.

Romo menyarankan pada Komisi X untuk kembali mengkonsep ulang paradigma RUU Kebudayaan. “Paradigma itu yang perlu dibangun lagi, ada urgensi paradigma yang dipakai konsep dasar yang dituangkan dalam bahasa hukum,”.

RUU Kebudayaan memuat 7 bab yang terdiri dari 94 pasal terakhir telah mengalami revisi pada 17 September 2015 lalu. kini masih dalam proses pembahasan komisi X DPR RI.

| Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next