Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Revisi UU KPK DPR upaya melemahkan KPK Featured

Revisi UU KPK DPR upaya melemahkan KPK

KoPi-Jogja│ DPR tidak henti-hentinya melemahkan KPK, pelemahan dilakukan dengan berbagai cara termasuk melaui revisi UU KPK serta menggunakan wacana hak angket dalam pengusutan kasus korupsi E-KTP.

"Sosialisai revisi UU KPK sedang dilakukan DPR di lima kampus yang ada di Indonesia, termasuk UGM. Artinya DPR serius melihat reaksi publik, apakah masih menginginkan KPK atau kah tidak," kata Zaenur Rohman, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi UGM pada conference pers yang dilakukan di Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Selasa (21/3).

Di sisi lain, revisi UU KPK nampaknya hanya digunakan sebagai serangan untuk melemahkan KPK. Pasalnya revisi tersebut tidak memiliki urgensi yang jelas. UU dapat direvisi apabila suatu regulasi tersebut inskontitusional atau bertentangan dengan UUD RI 1945, sesuai dengan kehendak publik, dan karena kebutuhan internal lembaga.

"Padahal, belum ada satupun putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa UU KPK inskontitusional. Kemudian, publik justru merasa revisi UU KPK akan melemahkan KPK, dibuktikan dengan banyaknya gelombang aspirasi penolakan RUU KPK di masyarakat dan dukungan KPK," jelas Hifdzil Alim, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi UGM.

Kemudian, Hifdzil Alim juga menjelaskan bahwa KPK selaku lembaga yang menjadi objek dalam revisi malah menganggap UU Nomor 30 tahun 2002 masih memiliki taji untuk memberantas korupsi, dan masih menyediakan kewenangan bagi KPK untuk mengusut kasus-kasus besar, termasuk E-KTP.

Revisi UU KPK sendiri berisi tentang munculnya dewan pengawas pada KPK, penyadapan yang dapat dilakukan setelah terdapat barang bukti permulaan yang cukup, serta penyidik yang tidak dapat secara mandiri diangkat. Munculnya dewan pengawas dapat diartikan bahwa penyadapan dan penyitaan harus melalui mekanisme ijin dewan pengawas.

Sedangkan, di sisi lain hal ini menjadi resistant karena dewan pengawas dapat dijadikan alat penguasa untuk melakukan intervensi. "Ini dikarenakan dewan pengawas dipilih dan diangkat oleh presiden. Padahal KPK adalah badan independent yang bertugas mengawasi. Tapi ini KPK malah diawasi oleh eksekutif, mana ada orang yang mengawasi kemudian diawasi," jelas Zaenur Rohman.

Selanjutnya, penyadapan yang baru dapat dilakukan setelah terdapat barang bukti permulaan yang cukup, menurut Zaenur Rohman adalah hal yang menggelikan. "Mau mencari alat bukti kok harus pakai alat bukti, ini adalah bentuk serangan untuk melemahkan KPK", ucapnya.

Tidak hanya itu, upaya DPR untuk melemahkan KPK juga ditujukkan dengan wacana hak angket dalam pengusutan kasus korupsi E-KTP. Walaupun hak angket adalah konstitusional, sangat tidak tepat jika ditujukkan kepada KPK yang mengusut kasus korupsi E-KTP.

Usulan hak angket akan mempengaruhi penegakan hukum yang dilakukan KPK. "Hak angket DPR salah alamat, harusnya tidak ditujukan pada KPK yang sedang manangani kasus E-KTP, sebab akan mengganggu proses penegakkan hukum," jelas Zaenur Rohman.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next