Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

PT KAI bantah ada aplikasi khusus agen

PT KAI bantah ada aplikasi khusus agen
Surabaya – KoPi | Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Sumarsono menampik dugaan adanya keistimewaan yang didapat oleh agen online ticketing. Ia menyatakan meskipun PT KAI bekerjasama dengan pihak ketiga untuk pemesanan tiket, mereka tidak mendapat jalur khusus.
 

“Agen online ticketing seperti Indomart, Alfamart, Paditrain, tiket.com, semuanya juga lewat jalur yang sama seperti penumpang kereta lain,” jelas Sumarsono.

Sumarsono juga menampik PT KAI memberikan aplikasi khusus yang membuat agen mampu memesan tiket sejak H-91 serta dalam jumlah banyak. Menurutnya, para agen mempekerjakan orang-orang untuk berburu tiket. 

“Sama saja seperti orang lain, hanya mereka mampu pesan tiket lebih banyak karena mereka menggunakan tenaga yang lebih banyak. Tidak hanya 1-2 orang saja yang menghadap komputer untuk berburu tiket, tapi bisa puluhan,” katanya.

“Kami tidak berani main-main. Tidak ada yang namanya aplikasi khusus buat agen. Semuanya serba transparan,” lanjut Sumarsono lagi.

Sumarsono bercerita ketika Jonan masih menjabat sebagai Direktur PT KAI, ia pernah mengajak YLKI dan wartawan untuk melihat bagaimana proses pemesanan tiket. Pada akhirnya YLKI menerima bahwa sistem yang digunakan PT KAI transparan dan menutup kemungkinan adanya calo.

“Memang para agen ini mendapat ijin dari PT KAI untuk menjadi perantara pemesanan tiket. Bedanya mereka mendapat ijin untuk menarik biaya administrasi saja,” kata Sumarsono.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next