Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Jogjakarta-KoPi| Sekitar Mei 2015 Pertamina berencana meluncurkan varian bahan bakar baru, Pertalite.  Dilihat dari unsurnya Pertalite memiliki angka oktan 90 (RON 90) berbeda dengan Premium yang memiliki angka oktan sebesar 88 (RON 88).

Menurut peneliti PSE (Pusat Studi Energi) UGM Prof. Arif Budiman Peluncuran Pertalite ini secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan harga baru. Pasalnya level Pertalite lebih tinggi daripada Premium saat ini.

“Sebenarnya kalau harga ini Pertamina punya rumus harga. Bisa dihitung dari biaya produksi, ditambah pertamina mau ambil harga berapa. Berbeda dengan pertamax yang mengikuti harga pasar “, paparnya.

Prof. Arif juga mengakui adanya Pertalite ini kemungkinan suatu bentuk pengalihan dari Premium. Premium dengan subsidi sekarang Rp 7.600, sedangkan pertamax tanpa subsidi Rp 8.600.

“Bisa jadi ini pengalihan dari Premium ke Pertamax jadi kira-kira harganya di antara mereka untuk perlahan mengalihkan ke Pertamax masyarakat digiring ke sana, untuk melepas subsidi”, kata Prof. Arif.

Sementara ini pasaran minyak semakin kompetitif. Di Jakarta saja sudah banyak berdiri SPBU asing seperti Petronas. Petronas harganya lebih mahal daripada pertamina. Tetapi tidak menutup kemungkinan ketika pemerintah melepas subsidi BBM, Pertamina tidak bisa bersaing.

"Namanya globaslisasi, harapan mereka ingin berbisnis di Indonesia, seperti Petronas atau Shael, tapi karena di Indoenesia lebih murah (subsidi) mereka gak laku, ini lebih ke kompromi ke pemerintah juga", pungkas Prof. Arif

|Roihatul Firdaus, Winda Efanur FS|



back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next