Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Jogja-KoPi| Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan bencana alam, namun juga berdimensi gender. Perempuan menjadi salah satu korban yang menderita akibat kerusakan hutan, dikarenakan perempuan memiliki fungsi reproduksi, konsumsi dan produksi. Aksi pengrusakan hutan berbanding lurus dengan penderitaan yang dirasakan perempuan.

“Kerusakan lingkungan korbannya semua orang, tapi perempuan itu lebih menderita karena memiliki fungsi reproduksi, konsumsi, dan produksi yang berbeda dengan laki-laki,” jelas Bernadus Wibowo Suliantoro, Peneliti Model Pengelolaan Hutan Wonosadi Berbasis Kearifan Lokal Kajian dari Prespektif Etika Ekofemisme.

Fungsi reproduksi perempuan berbeda dengan laki-laki, perempuan mengalami masa menstruasi, melahirkan dan menyusui. Dalam situasi tersebut wanita membutuhkan banyak air dibandingkan laki-laki. Kelangkaan air yang terjadi memberikan penderitaan yang lebih kepada perempuan serta anaknya.

Menurut Bernadus Wibowo Suliantoro, kelangkaan air yang terjadi akibat pengerusakan hutan akan berdampak pada jumlah air yang tersedia, korban dari kelangkaan air ini tidak hanya perempuan namun juga anak mereka. Hal ini dikarenakan kurangnya air yang dikonsumsi perempuan sehingga berakibat pada ASI yang tidak maksimal.

Penggundulan hutan juga mengakibatkan debit mata air warga menyusut, sehingga menambah beban perempuan dalam melaksanakan peran domestik yang melekat pada dirinya. Perempuan harus berusaha mencari air untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Hal yang serupa terjadi di desa Beji, Ngawen, Gunung Kidul, ketika beberapa perempuan terpaksa harus berjalan beberapa kilo untuk mendapatkan air guna keperluan mencuci, memasak, mandi, minum, serta dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akibat penggundulan hutan Wonosadi yang terjadi pada tahun 2014.

Perempuan yang memiliki fungsi produksi yang berbeda dengan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab penderitaannya. Pasalnya, perempuan mengolah apa yang tersedia di alam menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai jual ketika ia ditinggal suaminya merantau untuk bekerja. Perempuan memanfaatkan apa saja yang ada di alam untuk kelangsungan hidupnya dan keluarganya.

Dalam segi fungsi konsumsi, kebutuhan yang dikonsumsi perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan mengkonsumsi apa saja yang ada di alam, salah satunya yaitu tumbuhan yang digunakan obat oleh perempuan untuk merawat alat reproduksinya. Kerusakan hutan yang terjadi berakibat pada matinya tanaman-tanaman obat yang digunakan perempuan untuk menyembuhkan penyaki-penyakit yang dideritanya sehingga menambah deritanya dalam bidang ekonomi.

Perempuan merupakan salah satu alasan yang harus diperhatikan ketika terjadi perusakan hutan. Harmonisasi dalam keselarasan antara manusia dengan sesama alam merupakan fondasi yang kokoh untuk mewujudkan keadilan gender dan kelestarian hutan.│Frenda Yentin

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next