Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Sleman-KoPi| Pasar gula di Indonesia saat ini mengalami dualisme pasar dengan ditetapkan pasar gula Kristal Rafinasi dan pasar Gula Kristal Putih. Pasokan gula rafinasi bahan bakunya diimpor dari luar sementara gula putih sebagian diproduksi dari dalam negeri. Gula rafinasi yang seyogyanya digunakan untuk bahan baku industri makanan dan minuman. Namun kenyataannya banyak dijual di pasar rumah tangga. Diperkirakan sekitar 1 juta ton dari gula rafinasi yang beredar di pasar rumah tangga.

 

Ketua Tim Peneliti Gula dari Fakultas Pertanian UGM Prof. Dr. Masyhuri menyayangkan terjadinya penyimpangan distribusi gula rafinasi hingga bisa sampai dijual ke pasar rumah tangga.

 “Kita menyayangkan adanya kebocoran semacam ini, kita mendesak pemerintah untuk mengawasi lebih ketat,” kata Masyhuri kepada wartawan, Selasa (22/5).

Seperti diketahui gula rafinasi digunakan untuk industri makanan dan minuman dalam negeri dimana bahan bakunya impor dengan harga lebih murah dibanding dengan gula kristal putih. Harga rata-rata gula rafinasi berkisar Rp 8.879 per kg, sedangkan harga gula putih mencapai Rp 11.500 – Rp 12.500 per kg.

 “Perbedaan harga ini menyebabkan rawan kebocoran,” katanya.

Dengan adanya kebocoran atau rembesan gula rafinasi ini menandakan bahwa pemasaran gula melalui kerja sama antarbadan usaha atau business to business (B to B) sangat rawan penyimpangan.

 “Apabila pemasaran tidak diawasi dengan ketat maka yang akan dirugikan adalah produksi gula dalam negeri yang tidak lain hasil produksi tebu milik rakyat,” paparnya.

Agar tdak terjadi perembesan gula rafinasi ke pasar rumah tangga maka yang harus dilakukan adalah pengawasan yang lebih baik dari sebelumnya saat masih diberlakukannya pemasaran  lewat pasar e-lelang. Selain itu, ia juga mengharapkan pemerintah perlu memikirkan akses usaha kecil dan menengah dalam melaksankan kontrak B to B  dengan industri gula rafinasi.

Seperti diketahui kebutuhan akan gula konsumsi (gula putih) dan rafinasi mencapai 6,8 juta ton per tahuan sementara produksi gula hanya mencapai 2,1 juta ton per tahun. Dari kebutuhan 6,8 juta ton tersebut, diperkirakan 3 juta ton untuk gula konsumsi dan sisanya gula rafinasi. Kebutuhan akan gula rafinasi untuk memenuhi industri makanan dan minuman yang dipasok oleh 11 pabrik gula rafinasi. (Humas UGM/Gutsi Grehenson)

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next