Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Pemerintah belum berikan dukungan pada orkes simphony di Indonesia

Pemerintah belum berikan dukungan pada orkes simphony di Indonesia

Jogja-KoPi| Pemerintah belum memberikan dukungan untuk mengembangkan orkes simphony di Indonesia, dikarenakan bagian dari musik barat.

Addie MS, pendiri Twilite Orchestra sekaligus konduktor orkes simphony di Indonesia mengatakan pemerintah belum memberikan dukungan untuk mengembangkan orkes simphony di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki talen-talen berbakat yang dapat dikembangkan dalam pertunjukkan orkes simphony.

“Kita punya talen hebat-hebat kok orang Indonesia, kita datengin guru-guru pengajar, pasti akan meningkat. Kita banyak bakat-bakat yan luar biasa tapi mau berkembang kendala dana, pengajar, instrumenya aduh menyedihkan bandet. Kalau di luar banyak yang membantu buat instrumen, kita jauh sekali”, jelasnya saat diwawancarai setelah Jumpa Pers Grand Concert Gadjah Madha Chamber OrchestraVol 6 di Hotel Hyaat Yogyakarta, Kamis (4/5).

Pemerintah saat ini belum memberikan dukungan sama sekali untuk orkes simphony, padahal orkes simphony dapat menjadi ikonik bagi Indonesia.

“Padahal kegiatan musik simphony adalah kegiatan yang amat mahal dibandingkan seni lain. Bayangkan harus ada 50 musisi, ada yang 30 tapi rata-rata 50, dengan menggunakan instrument yang tidak murah dan pendidikan yang tinggi, mereka layak mendapatkan fee yang tinggi sehingga itu menjadi ikon”, jelas Addie.

Ia juga menuturkan jika di luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, Amerika, Eropa, Jepang, umumnya orkes simphony didukung oleh pemerintah dan jika tidak ada dukungan maka tidak akan bisa berkembang.

Indonesia tidak akan bisa menyamai negara-negara maju lainnya dalam orkes simphony jika pemerintah tidak memberikan dukungan.

“Kalau di Indonesia bantuan dari pemerintah tidak ada, gedung tidak ada, kemudian jauh lebih sulit. Kesulitannya lebih sulit dibandingkan Singapura”, tambahnya.

Addie sendiri selalu berusaha untuk menyakinkan pemerintah, namun hingga saat ini belum ada dukungan dari pemerintah dengan alasan orkes symphony berasal dari barat.

“Alasannya musik barat, padahal itu tidak dipertanyakan oleh Cina, Singapura, Venezuele, Irak, Palestina. Pasti alasannya barat dan kita punya budaya lokal seperti Karawitan”, jelasnya.

Addie berharap pemerintah dapat memberikan sarana, fasilitas, dana, serta bantuan instrument bagi perkembangan orkes simphony di Indoenesia, mengingat banyaknya bakat dan manfaat yang bisa diambil dari orkes simphony.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next