Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Meski mulai sepi, kampung dolanan 'eksis' lestarikan mainan tradisional

Meski mulai sepi, kampung dolanan 'eksis' lestarikan mainan tradisional

Jogjakarta-KoPi| Jauh dari pusat kota Jogja, tepatnya Desa Pandes, Panggungharjo, Bantul terdapat kampung unik 'kampung dolanan'. Kampung yang berdekatan dengan kampus Institut Seni Indonesia ini menjadi pusat dolanan tradisional Jogja.

Awal mula kampung dolanan dari pembangunan chalter paska-gempa Jogja 2006. Atas inisiasi Wahyudi Anggoro Hadi, dibangun tempat bermain anak-anak. Fungsinya untuk menghilangkan trauma gempa. Hal itu disambut warga desa yang notabene berprofesi sebagai pengrajin dolanan.

Lambat laun setelah fase penyembuhan trauma, fungsi kampung dolanan bergeser tempat edukasi dan pelestarian mainan tradisional.

Pengelolaan kampung dolanan selanjutnya mendapat bantuan dari pojok budaya. Nama Sekretariat yang berlokasi di pojok kampung.

Menurut salah satu pengelola, Sekar Mirah Satriani (25), masyarakat desa setempat berkomitmen untuk melestarikan mainan tradisional. Seperti gobag sodor, dingklik oglak-aglek, kacang goreng, serta mainan dengan nyanyian.

Pada awal pembangunan, kampung dolanan ramai dengan anak-anak bermain. Semakin menginjak tahun-tahun saat ini, minat anak bermain berkurang.

 

Sekar tidak memungkiri menurunnya minat bermain, lantaran perkembangan teknologi modern.

"Anak-anak sepi, jarang yang main. Tapi mereka tahu (ada kampung dolanan). Anak-anak sudah main mainan modern seperti gadget," jelas mahasiswi arkeologi UGM ini.

Meski kegiatan harian cenderung sepi, namun aktivitas pagi kampung dolanan ramai dengan anak-anak PAUD.

Paud yang berlokasi di kampung dolanan secara tidak langsung mengajarkan permainan tradisional.

Selain itu keramaian kampung dolanan dengan workshop pembuatan mainan. Melibatkan peserta kalangan TK hingga sekolah dasar.

"Outbond dengan membuat mainan, pesertanya 150an anak rata-rata dari TK-SD,"kata Sekar.

Sementara untuk pengembangan kampung, Sekar belum membahasnya dengan sekretariat. Saat ini masih melaksanakan program yang ada. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next