Menu
Gus Ipul Apresiasi Program Kepemilikan Rumah Bagi Driver Gojek

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemili…

Surabaya-KoPi| Wakil Gu...

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama selamatkan Golkar

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama …

Sleman-KoPi| Wakil Dewa...

Siswa di Bantul diduga terjangkit Difetri

Siswa di Bantul diduga terjangkit D…

Sleman-KoPi| Satu siswa...

Peneliti mendeteksi tanah merekah di Yogyakarta

Peneliti mendeteksi tanah merekah d…

Jogja-KoPi|Dua akademisi ...

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunakan Tradisi Intelektual Pada Budaya Kerja

Pakde Karwo Minta Kepala OPD Gunaka…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, Gus Ipul Baca “Duhai Kanjeng Nabi”

Wujudkan Kecintaan Nabi Muhammad, G…

Surabaya-KoPi| Mewujudk...

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima masukan masyarakat sebagai pribadi

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima…

Jogja-KoPi|Wakil Wali Kot...

Pemuda peduli Pemilu

Pemuda peduli Pemilu

Jogja-KoPi| Partsipasi ...

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia belum terkelola baik

Laksda Arie Soedewo: Laut Indonesia…

Sleman-KoPi|Kepala Bada...

UMKM Foords Plaza Geldboom

UMKM Foords Plaza Geldboom

Surabaya -KoPi| Artis p...

Prev Next

Menteri Agama mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Menteri Agama mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Sleman-KoPi| Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin menolak program sekolah lima hari diterapkan di sekolah Indonesia. Sekolah lima hari ini menurutnya dapat memberikan perubahan yang cukup signifikan pada sistem sekolah madrasah dan pondok pesantren.

"Kebijakan ini nantinya dapat mempengaruhi sistem dan metode pembelajaran pondok pesantren dan madrasah yang sudah dibangun berpuluh tahun, "ujarnya saat ditemui di Prambanan, Selasa ( 8/8).

Lukman menyampaikan jika kebijakan sekolah lima hari tetap diterapkan setidaknya orang tua, sekolah dan siswa dapat memilih untuk menerapkan kebijakan ini ataupun tidak.

Tujuannya adalah untuk menghindari gerakan penolakan yang tinggi oleh sekolah madrasah,ponpes, kiai dan ulama -ulama yang menolak kebijakan pembelajaran sekolah lima hari.

"Kalo menerapkan ya seharusnya diberi keleluasaan untuk orang tua, sekolah atau siswa untuk memilih menerapkan program atau tidak. Itu lebih arif dibandingkan memaksakan program yang nantinya dapat menghasilkan resistensi yang tinggi karena banyak pihak yang menolak khususnya masyarakat madrasah,pondok pesantren,kiai-kiai dan ulama-ulama,"jelas Lukman.

Berkaitan dengan tujuan kebijakan sekolah lima hari untuk penguatan karakter siswa, tampak pendapat menteri kabinet seolah tumpang tindih pada visi penguatan ini. Mendikbud mengatakan sekolah lima hari ini digunakan untuk menguatkan karakter siswa namun Menag menolak statement tersebut.

Lukman sendiri menegaskan pemerintah tidak membawa kebijakan ini sebagai sebuah metode penyampaian dari pemerintah.

Penggunaan metode yang digunakan pemerintah hanya menggunakan pendalaman pendidikan karakter serta pemahaman agama.

"Jadi jangan sampai pendidikan dan penguatan karakter ini direduksi pemaknaan nya lewat lima hari sekolah,"ucapnya.

Lukman juga menyampaikan pendidikan dapat dibentuk dengan dua cara yaitu pemahaman agama yang mendalam untuk siswa dan keteladanan yang dicerminkan orang tua. Orang tua diharapkan menjadi role model untuk anak sebagai metode penguatan karakter.

"Poinnya bukanlah lima hari sekolah namun penguatan pendidikan karakter,"pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next