Menu
UGM naik menjadi peringkat teratas nasional tahun 2017

UGM naik menjadi peringkat teratas …

YOGYAKARTA, 21 AGUSTUS 20...

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

Bantul-KoPi| Sebagai Univ...

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi Intelegensia Muda Berkarakter Tradisi Besar

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi In…

Bantul-KoPi| Ketua Umum P...

Seminar COMICOS 2017 Universitas Atmajaya Yogyakarta

Seminar COMICOS 2017 Universitas At…

SLEMAN-Memasuki usianya y...

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama Orangtua/Wali Mahasiswa Baru

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama …

Bantul-KoPi| Tradisi baik...

Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Prev Next

Menteri Agama mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Menteri Agama mengkritik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Sleman-KoPi| Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin menolak program sekolah lima hari diterapkan di sekolah Indonesia. Sekolah lima hari ini menurutnya dapat memberikan perubahan yang cukup signifikan pada sistem sekolah madrasah dan pondok pesantren.

"Kebijakan ini nantinya dapat mempengaruhi sistem dan metode pembelajaran pondok pesantren dan madrasah yang sudah dibangun berpuluh tahun, "ujarnya saat ditemui di Prambanan, Selasa ( 8/8).

Lukman menyampaikan jika kebijakan sekolah lima hari tetap diterapkan setidaknya orang tua, sekolah dan siswa dapat memilih untuk menerapkan kebijakan ini ataupun tidak.

Tujuannya adalah untuk menghindari gerakan penolakan yang tinggi oleh sekolah madrasah,ponpes, kiai dan ulama -ulama yang menolak kebijakan pembelajaran sekolah lima hari.

"Kalo menerapkan ya seharusnya diberi keleluasaan untuk orang tua, sekolah atau siswa untuk memilih menerapkan program atau tidak. Itu lebih arif dibandingkan memaksakan program yang nantinya dapat menghasilkan resistensi yang tinggi karena banyak pihak yang menolak khususnya masyarakat madrasah,pondok pesantren,kiai-kiai dan ulama-ulama,"jelas Lukman.

Berkaitan dengan tujuan kebijakan sekolah lima hari untuk penguatan karakter siswa, tampak pendapat menteri kabinet seolah tumpang tindih pada visi penguatan ini. Mendikbud mengatakan sekolah lima hari ini digunakan untuk menguatkan karakter siswa namun Menag menolak statement tersebut.

Lukman sendiri menegaskan pemerintah tidak membawa kebijakan ini sebagai sebuah metode penyampaian dari pemerintah.

Penggunaan metode yang digunakan pemerintah hanya menggunakan pendalaman pendidikan karakter serta pemahaman agama.

"Jadi jangan sampai pendidikan dan penguatan karakter ini direduksi pemaknaan nya lewat lima hari sekolah,"ucapnya.

Lukman juga menyampaikan pendidikan dapat dibentuk dengan dua cara yaitu pemahaman agama yang mendalam untuk siswa dan keteladanan yang dicerminkan orang tua. Orang tua diharapkan menjadi role model untuk anak sebagai metode penguatan karakter.

"Poinnya bukanlah lima hari sekolah namun penguatan pendidikan karakter,"pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next