Menu
Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 akan diperketat.

Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 ak…

Sleman-KoPi|Ketua Koordin...

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang menerima lebih dari 40.000 pendaftar.

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang me…

Sleman-KoPi| Panitia Loka...

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak cukup hanya pada perlindungan hutan saja.

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak c…

Sleman-KoPi| Gelaran Ko...

Satu kali transaksi, kawanan pengedar pil mendapat keuntungan 15-20 juta.

Satu kali transaksi, kawanan penged…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, namun jangan lupa fasilitas dan lab perlu juga ditingkatkan.

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, n…

Sleman-KoPi| Rektor UGM, ...

Ini tanggapan rektor UGM pada wacana kedatangan dosen asing.

Ini tanggapan rektor UGM pada wacan…

Sleman-KoPi|Rektor Univer...

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Cerita perjuangan wisudawan doktora…

Sleman-KoPi| Tak ada yang...

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor tingkatkan internasionalisasi dosen dan mahasiswanya.

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor t…

Bantul-KoPi| Rektor Unive...

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil besutannya ke kompetisi dunia Juli nanti.

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil bes…

Sleman-KoPi| Tim mahasi...

Prev Next

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

lugman

Jogja-KoPi|Menteri Agama (Menag) RI, Luqman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa semua agama menolak tindakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Hal ini disampaikan untuk merespon putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak uji materi soal LGBT beberapa waktu lalu.

"Semua agama tidak menyetujui tindakan LGBT. Perilaku ini ditolak semua agama dan itu sudah menjadi kesepakatan bersama serta iktifat atau tidak ada keraguan didalamnya,"tegas Menag usai acara Gebyar Kerukunan di GOR UNY, Senin (18/12).

Menag juga menjelaskan tidak hanya pandangan agama yang menolak, namun norma hukum positif Indonesia juga tidak mengizinkan LGBT. Hal ini bisa dilihat dari undang-undang perkawinan yang menegaskan bahwa perkawinan ditetapkan sah apabila kedua mempelai sejatinya berbeda jenis kelamin antara satu sama lain, bukan sesama jenis.

"Jadi tentunya tidak ada norma hukum yang melegalisasikan tindakan(LGBT) itu ," jelasnya.

Luqman mengimbuhkan persoalan saat ini bukanlah penolakan namun bagaimana umat beragama menyikapi pelaku yang memiliki orientasi seksual seperti LGBT. Menag pun memaparkan sampai saat ini muncul keragaman pandangan seperti dari pemuka, akademisi agama, kesehatan, kejiwaan dan ahli sosial yang melihat fenomena ini.

Bentuk pandangannya bervariatif seperti pendapat perilaku penyimpangan, masalah sosial, kutukan dari Tuhan, hingga takdir sejak bayi. Ia menegskan semua pandangan ini tidak harus diterima secara langsung ataupun ditolak secara mentah-mentah.

"Menurut hemat saya, masing masing pandangan ini harus dihormati dan dihargai,"timpalnya.

Lebih lanjut , Luqman mengatakan dirinya tidak akan menyalahkan para pelaku LGBT atas perilaku mereka. Menag mengajak semua penganut agama agar mengarahkan para pelaku LGBT ini kembali ke ajaran yang benar. Respon mengucilkan dan menjauhi pelaku LGBT ,menurutnya justru dirasanya tidak sesuaai dengan tujuan semua agama.

"Jadi menurut saya, kita harus merangkul serta mengayominya (pelaku LGBT), bukan di kucilkan dan dijauhi. Justru kewajiban kita sebagai umat penganut agama ,bahwa agama itu mengajarkan kalau kita tahu ,katakanlah tindakan yang mereka lakukan sesat, kita harus mengajak mereka ke jalan yang benar,"pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next