Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

MEA bukan persaingan tapi kerjasama

MEA bukan persaingan tapi kerjasama

Jogja-KoPi| "Indonesia harus mampu menjadi tuan di negeri sendiri, mampu menolak sekedar kuli di negeri sendiri, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) adalah suatu kerjasama bukan bentuk persaingan", jelas Prof Dr Sri Edi Swasono, Guru Besar Universitas Indonesia dalam seminar DPP UNY, Sabtu (14/05) bertempat di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan suatu paham kerjasama antara negara-negara di ASEAN, namun kadang disalah artikan sebagai bentuk persaingan. Kerjasama yang seharusnya win-win berubah menjadi win lost.

Menurut Prof Dr Sri Edi Swasono, hal tersebut dikarenakan kita membaca MEA dengan naluri " bersaing" dan bukan naluri "kerjasama" sesuai jiwa UUD 1945. "Bangsa ini telah terseret oleh semangat berdaing yang dibawa oleh pasar bebas neoliberalistiknya globalisasi.

Ini merupakan suatu kemerdekaan ideologi kapitalisme untuk membentukkan " mindset bersaing" ke seluruh pelosok dunia, sebagai kemenangan perang ideologi kapitalisme melalui neocortical warfarrnya liberalism dan kapitalisme", jelasnya.

MEA sebagai bentuk kerjasama harus saling menguntungkan, tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang selingkuh dan menyelingkuhi. Indonesia harus dapat menegaskan bahwa forum MEA adalah forum komplementaritas, artinya saling melengkapi kekurangan masing-masing anggota menjadi kebutuhan sinergis dan memberikan keuntungan bersama.

"Apabila MEA merugikan Indonesia, Indonesia harus berani menolak, mengapa Indonesia harus ketakutan dalam menghadapi MEA", tutur Prof Dr Sri Edi Swasono.

Indonesia harus dapat menyadarkan diri sendiri bahwa setiap negara ASEAN tetap memiliki otoritas dan kedaulatan penuh untuk menetapkan peraturan nasional masing-masing dalam melaksanakan implementasi perjanjian.

Menurutnya, MEA harus dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan kerjasama, baik multilateral atau pun bilateral, melaui traktat-traktat, aliansi-aliansi strategies atau kerjasama-kerjasama sinergis apapun untuk saling meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

"Kaidah-kaidah penuntun kerjasama harus dipegang teguh, meliputi saling menghormati, saling tolong menolong, saling mendukung untuk saling memajukan, saling melengkapi atau membentuk komplementaritas, saling menguntungkan win-win, tidak merugikan mitra kerjasama, saling melindungi dari ancaman dan kerugian, saling penanggung beban atau penanggung resiko bersama", jelas Prof Dr Sri Edi Swasono.

"Indonesia harus bisa " say No" manakala Indonesia atau salah satu anggota dirugikan. MEA harus berjiwa kebersamaan, sama-sama maju, win-win, menghindari zero-sum", tambahnya.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next