Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Masyarakat Borobudur Menolak “Ka’bah” Buddha

Masyarakat Borobudur Menolak “Ka’bah” Buddha

Magelang-KoPi| Gagasan atau rencana Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menjadikan Mandala Borobudur sebagai Ka’bah umat Budha banyak mendapat penolakan dari warga Borobudur. Hal ini tampak ketika KoranOpini.com menjaring pendapat beberapa tokoh dan masyarakat Borobudur.

The world heritage yang dikelilingi 20 desa ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini rentan menimbulkan sensitivitas agama. Namun ide brilian Ganjar Pranowo membangkitkan ekonomi Jawa Tengah, khususnya kawasan Borobudur tidak hanya menyinggung persoalan iman. Bahkan aspek lain seperti ekonomi, sosial, dan kultural, juga patut menjadi sorotan penting.

Seperti yang disampaikan oleh budayawan dan peneliti Borobudur, Ariswara Sutomo, bahwa Mandala Borobudur selalu menjadi ajang perebutan kepentingan. “Kondisi Borobudur saat ini secara fisik sudah dicincang oleh lembaga-lembaga, contoh pengelolanya BUMN melihat Borobudur sebagai mesin pencetak uang. Lalu konservasi purbakala melihat Borobudur date monumen, yang menodai kesakralannya. Hal ini berbeda dengan orang Budha yang mensterilkan kawasan suci Borobudur”, papar Sutomo.

Sementara kepala dusun, Brongsongan, Wringinputih, Borobudur tidak menghawatirkan masalah agama. “Kita negara Pancasila, sah saja Budha beribadah di Borobudur namun itu untuk acara tertentu kayak Waisak, karena di sini sedikit sekali orang Budha. Susah, orang kita kebanyakan Islam. Dan Borobudur sudah diakui warisan budaya nenek moyang, jadi walaupun dia produk Budha tapi sudah dimiliki masyarakat Borobudur”, jelasnya.

Secara terpisah pernyataan kepala dusun Brongsongan disetujui oleh perangkat desa lain seperti Kujon, Kuncen, Sabrangrowo, Wanurejo, Parakan, dan Djowahan. Mereka pada prinsipnya melihat masyarakat Borobudur secara umum tidak bisa menerima rencana tersebut.

Sementara itu, Mojo, seorang seniman seni rupa asal Borobudur ketika dimintai pendapatnya mengatakan bahwa meskipun gagasan itu tampaknya bagus tetapi juga harus melihat kondisi sosial dan kultural Borobudur saat ini.

Dalam sebuah dialog pada Denny words yang mengangkat isu tersebut setelah Rizal Ramli meneruskan gagasan Ganjar Pranowo tentang Borobudur menjadi Ka'bah bagi ummat Buddha, seorang umat Buddha memustahilkan itu dengan alasan agama Buddha tidak bisa seperti itu.

de

| Winda Efanur FS

 

Baca juga:

Sang Dewi Artemis
KH Fahmi Basya, Sulaiman dan kemungkinan
Suka pedas? Hati-hati pada efek ini
Hati-hati, pengering tangan otomatis bisa sebarkan virus
ASI, cinta yang mengerti

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next