Menu
Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Australia 1972 cacat hukum

Pengakuan Baru: Perjanjian RI-Austr…

Kupang-KoPi| Penulis Bu...

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tidur untuk pertanian

AKMIL Magelang manfaatkan lahan tid…

Akademi Militer - Gubernu...

Gus Ipul berharap semua terbiasa baca shalawat

Gus Ipul berharap semua terbiasa ba…

  Surabaya-KoPi| Wa...

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Perayaan Natal Keluarga Besar UAJY

Sleman-KoPi| Universita...

Teliti isu multikultur dalam film Indonesia

Teliti isu multikultur dalam film I…

Bantul-KoPi| Sejarah pe...

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Sektor UMKM

Karwo Dorong Penerapan K3 Hingga Se…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan kedaulatan Laut Timor

Susi Pudjiastuti diminta tegakkan k…

Kupang-KoPi|Pembela nel...

Kapolda DIY segera lakukan operasi pasar kontrol harga beras

Kapolda DIY segera lakukan operasi …

Sleman-KoPi|Kepala Pold...

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY digeser

Beberapa pejabat tinggi Polda DIY d…

Sleman-KoPi|Polda DIY m...

Pengedar Sabu di Sleman berhasil ditangkap jajaran Polres Sleman

Pengedar Sabu di Sleman berhasil di…

Sleman-KoPi| Satuan res...

Prev Next

Konektivitas Virtual Global: Peringkat Indonesia dan Jokowi Meningkat

ids ugm

Yogyakarta-KoPi | Kemudahan akses internet dan fitur-fitur media sosial kini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk berinteraksi, termasuk oleh para pemimpin negara. Interaksi dan pembaruan informasi secara real-time yang didapatkan dari media sosial dan situs web dirasa mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan informasi yang cepat.

Para pemimpin negara pun menggunakan media sosial dan situs web untuk maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Namun, semua tujuan ini masih berada dalam satu kerangka besar, yaitu untuk menyelaraskan pola interaksi mereka dengan kemajuan teknologi.

Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM mengadakan penelitian tentang “Indeks Konektivititas Virtual Global,” yaitu indeks yang mengukur tingkat pemanfaatan sarana komunikasi virtual oleh negara yang tertuang dalam Virtual Connectedness Index (VCI).

Indeks ini dihitung dengan menggabungkan beberapa indeks turunan, yaitu Indeks Popularitas Virtual atau Virtual Popularity Index (VPI), Indeks Konektivitas Media Sosial atau Virtual Social Media Connectedness Index (VCSM), dan Indeks Konektivitas Website atau Virtual Website Connectedness Index (VCWS).

Penelitian ini adalah penelitian lanjutan dari penelitian sama yang dilakukan oleh CfDS di tahun 2015. Dalam penelitian ini, diperoleh 10 negara dengan skor Virtual Connectedness Index (VCI) tertinggi. CfDS menyediakan data-data tentang 10 negara dengan skor VCSM dan VCWS tertinggi serta 10 kepala negara teraktif di media sosial, baik Facebook maupun Twitter .

“Penelitian ini menunjukan bahwa penggunaan media sosial dan komunikasi virtual dalam penyelenggaraan pemerintahan di seluruh dunia telah menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Penelitian ini juga dilakukan untuk memperbarui data penelitian yang kami sudah lakukan di tahun 2015, sehingga akan diperoleh kumpulan data yang terus diperbarui.” ucap Viyasa Rahyaputra, Research Manager, CfDS.

Indonesia menduduki peringkat 9 dari 10 negara dengan skor VCI tertinggi, sementara Amerika berada di peringkat pertama. Masuknya Indonesia dalam peringkat 10 besar negara dengan skor tertinggi pada indeks ini menunjukkan peningkatan yang dilakukan oleh Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh penggunaan internet dan media sosial yang meningkat, baik di kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintahan. Penggunaan media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan YouTube oleh Presiden Joko Widodo sebagai bentuk komunikasi politik juga menjadi pendorong meningkatnya peringkat VCI Indonesia.

Pada tahun 2017, Presiden Jokowi menempati urutan ke-6 dalam The Most Active World Leaders on Social Media atau Indeks VCSM. Peringkat ini berada di bawah Narendra Modi dan Erdogan yang masing-masing berada di peringkat pertama dan ketiga.

Sementara itu, nama Donald Trump dan Narendra Modi mendominasi di peringkat satu dan dua dalam Indeks 10 Kepala Negara Teraktif di Twitter dan Facebook. Kendati sering mengunggah kicauan yang kontroversial, Donald Trump tetap menggunakan Twitter sebagai sarana membagikan ide dan pandangan politiknya.

Ada beberapa negara yang menunjukan performa cukup baik di media sosial, sehingga menjadi negara baru dalam Peringkat 10 Kepala Negara Teraktif di Media Sosial. Negara-negara tersebut antara lain, Kamboja, Kanada, dan Puerto Rico.

CfDS juga memasukkan situs web sebagai salah satu indikator ukuran Virtual Connectedness Index (VCI). Meskipun Indonesia termasuk negara yang tertinggi dalam penggunaan media sosial, namun Indonesia hanya menduduki peringkat ke-69 dalam Virtual Website Connectedness Index (VCWS).

Menariknya, negara Tiongkok dan Rusia yang merupakan negara yang memiliki akses terbatas pada media sosial, sepeti Facebook dan Twitter menduduki skor VCWS yang cukup tinggi.

Melihat skor VCI Indonesia yang tinggi, Viyasa menekankan potensi Indonesia yang besar. Presiden Jokowi saat ini cukup intensif menggunakan media sosial untuk mengunggah pandangan politik hingga agenda-agenda pemerintahan. Dengan demikian, diharapkan terdapat peningkatan keterbukaan informasi dan tingkat keterlibatan (engagement) masyarakat dalam pemerintahan.

“Dari penelitian ini terlihat bahwa Indonesia pada dasarnya memiliki potensi besar dari segi pengguna internet dan media sosial untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi demi kepentingan bersama. Potensi ini dapat digunakan untuk menjalankan agenda besar dalam memajukan masyarakat digital Indonesia, yang mencakup tentang isuisu pembangunan kota pintar, demokrasi digital, dan penerapan e-government.” ucap Viyasa

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next