Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Komunitas Seniman Jogja tolak penggusuran PKL nol Km

Komunitas Seniman Jogja tolak penggusuran PKL nol Km

Jogjakarta-KoPi|Komunitas Seniman Jogja menggelar PaMer (Panggung Rakyat Merdeka) di areal Nol Kilometer, Ahad, 22 Maret 2015. Aksi tersebut digelar untuk memprotes penggusuran pedagang kaki lima (PKL) oleh pemkot. Tergabung dalam komunitas tersebut, Sebumi, Mahardika dan mahasiswa. Dalam gelar panggung rakyat ini, mereka mengekspresikan protes mereka melaui musik dan puisi.

Berdasarkan Perda nomor 26 tahun 2002 tentang penataan PKL pemkot menertibkan keberadaan PKL di areal Nol Kilometer. Perda ini, merupakan upaya pemot menjadikan kota lebih tertib dan tertata. Namun berseberangan dengan pemkot, Komunitas Seniman Jogja menolak perda itu.

Koordinator lapangan Panggung Merdeka, Gonzales Sebumi, mengatakan bahwa pergusuran itu seharusnya memberikan solusi yang maksimal agar para pedagang kaki lima bisa menruskan hidup lebih baik.

“Aksi ini intinya kami menolak penggusuran itu dengan solusi minimal, kalau teman-teman dilarang jualan apa solusi lain dari pemerintah kota, yang terlanjur menggantungkan hidup di Nol Kilometer. Posisi kawan-kawan kaki lima harus memilih menegakan pertauran atau meneruskan hidup”, tegas Gonzales.

Gonzales juga menambahkan penggusuran atas nama keindahan kota sangat merugikan PKL. Seolah pemkot tidak memikirkan nasib PKL.

“Atas nama tata kota, teman-teman digusur, sedangkan orang-orang kapitalis dengan mudahnya mengambil akses ekonomi”.

Hal senada juga disampaikan oleh penjual tato, Agustin, baginya adanya relokasi justru semakin mempersulit kehidupan PKL.

“Saya punya lapak di sana (nol kilometer), itu setiap harinya jualan juga susah, banyak tunggakan dan bayar kredit. Apalagi kalau digusur, nasib gimana?”

Kini penggusuran telah berlangsung yang melibatkan jajaran Pol PP bahkan TNI. Tidak jarang penggusuran ini menimbulkan kontak fisik antara aparat dengan PKL. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next