Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Komunitas Seniman Jogja tolak penggusuran PKL nol Km

Komunitas Seniman Jogja tolak penggusuran PKL nol Km

Jogjakarta-KoPi|Komunitas Seniman Jogja menggelar PaMer (Panggung Rakyat Merdeka) di areal Nol Kilometer, Ahad, 22 Maret 2015. Aksi tersebut digelar untuk memprotes penggusuran pedagang kaki lima (PKL) oleh pemkot. Tergabung dalam komunitas tersebut, Sebumi, Mahardika dan mahasiswa. Dalam gelar panggung rakyat ini, mereka mengekspresikan protes mereka melaui musik dan puisi.

Berdasarkan Perda nomor 26 tahun 2002 tentang penataan PKL pemkot menertibkan keberadaan PKL di areal Nol Kilometer. Perda ini, merupakan upaya pemot menjadikan kota lebih tertib dan tertata. Namun berseberangan dengan pemkot, Komunitas Seniman Jogja menolak perda itu.

Koordinator lapangan Panggung Merdeka, Gonzales Sebumi, mengatakan bahwa pergusuran itu seharusnya memberikan solusi yang maksimal agar para pedagang kaki lima bisa menruskan hidup lebih baik.

“Aksi ini intinya kami menolak penggusuran itu dengan solusi minimal, kalau teman-teman dilarang jualan apa solusi lain dari pemerintah kota, yang terlanjur menggantungkan hidup di Nol Kilometer. Posisi kawan-kawan kaki lima harus memilih menegakan pertauran atau meneruskan hidup”, tegas Gonzales.

Gonzales juga menambahkan penggusuran atas nama keindahan kota sangat merugikan PKL. Seolah pemkot tidak memikirkan nasib PKL.

“Atas nama tata kota, teman-teman digusur, sedangkan orang-orang kapitalis dengan mudahnya mengambil akses ekonomi”.

Hal senada juga disampaikan oleh penjual tato, Agustin, baginya adanya relokasi justru semakin mempersulit kehidupan PKL.

“Saya punya lapak di sana (nol kilometer), itu setiap harinya jualan juga susah, banyak tunggakan dan bayar kredit. Apalagi kalau digusur, nasib gimana?”

Kini penggusuran telah berlangsung yang melibatkan jajaran Pol PP bahkan TNI. Tidak jarang penggusuran ini menimbulkan kontak fisik antara aparat dengan PKL. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next