Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Kompas Gramedia dianggap anti Islam

Jakartanicus/ youtibe Jakartanicus/ youtibe

Jakarta-KoPi| Front Pembela Islam (FPI) mendatangi Redaksi Kompas, Kamis, (16/6) setelah FPI merasa Kompas melakukan framing dan agenda setting tertentu untuk menyudutkan umat Islam dengan beritanya.

Munarwan salah satu ketua FPI mengatakan bahwa berita Kompas telah membuat berita yang dinilai tendensius dengan membuat framing tertentu seperti humanisme dan meyiarkannya berulang-ulang. Terutama dalam kasus warteg di Serang beberapa waktu lalu.

"Kompas sehari bisa menulis 10 hingga 15 berita dan mengupdate dua setengah jam setiap harinya kasus Perda Syariah Serang."

FPI memandang Kompas Gramedia tidak bersikap adil dalam menjalankan laku jurnalismenya. Terlalu tendensius yang mengakibatkan dampak kerugian bagi umat Islam. Kompas dinilai membenci Islam karena tidak memberitakan kasus serupa di daerah lain seperti di Papua dan Bali.

"KIta tidak pernah membaca Kompas memberitakan misalnya pelarangan berjualan di hari Minggu di Papua. Atau Pecalang-pecalang di Bali yang kadang-kadang melempari rumah umat Islam dan melarang sholat Jum'at. Tapi begitu ada kasus pemilik tiga warteg di Serang yang ditindak Kompas memblo up berulang-ulang selama lima hari berturut-turut" Kata Munarman.

Hal tersebut, menurut Munarman menimbulkan pertanyaan apakah Kompas sengaja melakukan framing untuk menyudutkan umat Islam. Ditambah narasumber yang diambil juga dinilai tidak kompeten seperti Sophia Latjuba yang tidak paham hukum dan Syariat islam.

Kompas juga dinilai mempelopori tindakan logika masyarakat menjadi anarkis yang mengabaikan aturan. Munarman memperingatkan Kompas Gramedia untuk tidak membuat framing dan membangun persepsi tertentu yang menyudutkan umat Islam.

"Janganlah,"kata Munrman," nanti bisa juga lho kita umat Islam memframing, mempersepsi bahwa Kompas adalah Komando Pastor. Apa mau Kompas mau persepsi itu dulang lagi seperti dulu? Pasti tidak kan..Itu Sara."

Sementara itu pihak Kompas Gramedia melaui Budiman Tanuredjo, Widi Krastawan meyampaikan ucapan terimakasih dan memberikan pemahaman bahwa Kompas adalah idealisme ditambah bisnis.

Kompas tidak bermaksud seperti yang dituduhkan. Justru Kompas ingin dekat sebagai kawan dengan siapa saja. Sebagai kawan bisa memuji dan bisa pula mengingatkan kalau ada hal yang dianggap menyeleweng.

 

Media

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next