Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Kasus semen, pakar tanyakan "bukti" ke PT. SI

Kasus semen, pakar tanyakan "bukti" ke PT. SI

Jogjakarta-KoPi| Selama ini pembangunan pabrik semen memicu terjadinya konflik horizontal di kalangan masyarakat. Seperti pembangunan pabrik semen PT. SI (Semen Indonesia) di Rembang menyusul pembangunan pabrik semen di Pati oleh PT. Indocement.

Polemik muncul ketika masyarakat setempat menolak pembanguna pabrik semen di tempatnya. Masyarakat menilai adanya pabrik akan berakibat merusak tata lingkungan dan ekosistem yang ada.

Namun kekhawatiran masyarakat dibantah oleh perwakilan dari PT. SI, Agung Wiharto yang memaparkan model pengelolaan Green Industry. Dalam diskusi publik di gedung pusat FT. UGM pukul 09.00 WIB Agung model pengelolaan industri semen yang ramah lingkungan dan berkelanjutan terkait ekosistem.

Menurut Agung pabrik semen PT. SI di Tuban menerapkan konsep Green Industri yang meliputi AMDAL, konservasi sumber daya dan community development. Penjabaran AMDAL fokus menangani lingkungan seperti pengelolaan emisi udara, limbah B3 dan air.

“Kita di pabrik Tuban taruhan terkait gas buangan CO₂ bila ada pengunjung yang berhasil menekukan cerobong asap berati penanganan kita belum baik, dan bila pengunjung tidak menemukan pelayanan kita baik”, papar Agung.

Sementara terkait air khususnya air tanah, Agung menerapkan eksplorasi ramah lingkungan dengan tidak mengmbail air tanah kawasan lindung. Dia menjelaskan kasus Rembang PT. SI tidak menyalahi aturan air tanah.

“Dengan Rembang, kita melakukan penambangan yang benar dan tidak mengurangi dampak air tanah”, jelasnya.

Secara terpisah pernyataan Agung diragukan oleh dosen FT. UGM, Prof. Sunjoto penanganan limbah pabrik belum mempunyai bukti tidak meresahkan masyarakat. Pasalnya skala pabrik semen mengeluarkan banyak limbah seperti air, gas, bahkan DAS. Selain itu Prof. Sunjoto juga menanyakan kajian teknis yang mendukung penerapan UU keanekaragaman hayati dalam proses eksplorasi.

Agung menegaskan pihaknya melalu PT. SI telah melakukan reklamasi terhadap bekas daerah eksplorasi pabrik seperti di daerah Tuban. Terkait eksplorasi PT. SI mengaku tidak merambah kawasan lindung termasuk goa-goa yang dilindingi pemerintah.

Produksi semen Indonesia
Dalam penyediaan kebutuhan semen Indonesia PT. SI menyumbang 38% sekitar 31 juta ton. Produksi total secara nasional dengan PT semen lainnya sekitar 70 juta ton.
Pabrik baru PT. SI di Rembang masih menjadi polemik menelan biaya sekitar 3,7 triliun dengan produksi 3 juta ton. Kemungkinan adanya pembengkakan, PT. SI menganggarkan sekitar 5 triliun. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next