Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jakarta keras,Bung, jangan kesini tanpa apa-apa

Jakarta keras,Bung, jangan kesini tanpa apa-apa
Jakarta - KoPi | Hijrah dari desa asal ke kota yang lebih besar memang menjadi mimpi sebagian orang. Kota metropolitan dianggap sebagai lapak untuk penunjang kehidupan yang lebih baik. Sehingga bagi para pemukim asal desa, Jakarta dan kota besar lainnya merupakan tempat untuk kehidupan yang lebih baik.

Nyatanya Jakarta tidak sehalus yang dikira kebanyakan orag. Datang ke jakarta tanpa skill dan kemampuan khusus untuk bekerja merupakan hal yang nihil. Alhasil, kedatangan mereka malah menambah kuota pengangguran di kota-kota besar.

Fakta tersebut lantas membentuk pemukiman pemukiman liar serta kumuh dipinggiran di Jakarta. Seperti yang terlihat di rel sepanjang rel kereta api menuju stasiun Tanah Abang. Terdapat banyak pemukiman kumuh hanya dengan menggunakan bahan seadanya.

Bambang (54) salah satu warga pemukiman liar mengaku telah berpuluhan tahun bermukim disana. ia berasal dari Jawa Tengah dan bekerja sebagai tukang minuman di stasiun Tanah Abang. Penghasilan yang sangat minim membuat dirinya tidak bisa membangunkan rumah layak bagi istri dan kelima anaknya.

Kerap digusur oleh pihak stasiun dan pemerintah, para pemukim ini justru malah kembali membangun lapaknya.

“Saya mau kemana mbak? Uang buat sewa kamar aja gak punya. Mau balik ke kampung juga mau kerja apa. Anak sama istri saya kasih makan apa. Mending disini saya bisa kerja seadanya, hasilnya kecil, setidaknya saya masih bisa kasih makan anak istri” ujarnya kepada KoPi.

Hal yang sama dirasa oleh Tuti, ia hijrah ke Jakarta sejak tahun 2000 lalu. Ia mengaku sebelumnya mengontrak di sebuah rumah petak di bilangan Jakarta. Namun, karena penghasilannya kini sangat minim, untuk membayar uang kontrakan dirinya sudah tidak mampu.

Alhasil ia menggelar lapak kumuh bersama dengan suaminya dan satu anaknya untuk ditinggali.
Tempat tinggal mereka hanya beratap terpal biru tipis yang diikat ke tembok. Lalu dialasi oleh kardus yang ditumpuk seolah menjadi kasur.

Jika ingin menggunakan kamar mandi, para pemukim liar ini harus menggunakan wc umum yang terletak lumayan jauh. Mereka juga kerap menggunakan wc milik musholah disekitar sana.

Kerasnya Jakarta lantas membuat mereka harus menggelar lapak yang sangat jelas dilarang oleh pemerintah. Hal ini disebabkan oleh keyakinan mereka berhijrah ke Jakarta yang diduga memiliki lapak pekerjaan bagi mereka.
Padahal, ke Jakarta tanpa skill dan keahlian khusus justru hanya akan menyusahkan dirinya.

Sebelumnya gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama menegaskan untuk melarang para pendatang dari luar Jakarta yang ingin bekerja disini. Baginya, jika tanpa keahlian khusus kedatangan para migran akan membuat Jakarta semakin padat dan tidak memiliki keuntungan untuk Jakarta. | Labibah

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next