Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Jogjakarta-KoPi| Seminggu terakhir masyarakat Jogja resah dengan merebaknya isu tentang Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Setelah pemberitaan hilangnya dokter asal Lampung dr. Rica Tri Handayani yang diduga terlibat organisasi tersebut.

Keterlibatan dr. Rica dengan organisasi Gafatar menjadi tanda tanya besar. Orang sekelas dokter dan memiliki pengetahuan tinggi bisa terjerat aliran yang diduga sesat ini.

Guru besar Psikologi UGM, Prof. Koentjoro, menilai keterlibatan dr. Rica pada gerakan Gafatar merupakan hal yang wajar. Pasalnya mereka menggunakan metode brain storming yang sangat halus. Mereka menerapkan metode dengan perlahan, hingga tanpa disadari oleh korban dirinya telah menyimpang.

"Masing-masing dengan metode cuci otak yang sangat halus, sedkit-demi sedikit, mereka terlena dan menyimpang", jelas Prof. Koentjoro saat ditemui di rumahnya pada tanggal 14 Januari 2016.

Prof. Koen menambahkan bertindak cerdas berkedok kegiatan sosial untuk menarik pengikut. Orang-orang berpendidikan tinggi mudah tertarik dengan kegiatan humanis. Baru setelah tertarik mereka mendoktrin ajarannya.

"Mereka percaya pulau Jawa akan tenggelam, sehingga mereka eksodus ke Kalimantan,"tambah Prof. Koen.

Korban kurang Kritis

Pencegahan seseorang dari pengaruh aliran sesat dengan benteng dari diri sendiri. Setiap orang harus bersikap kritis dengan ajaran baru. Orang tidak mudah menerima begitu saja pemahaman yang diajarkan oleh orang atau organisasi tertentu.

"(Orang yang terlibat), itu mereka pandai tapi tidak kritis,"kata Prof. Koen.

Menurut Prof. Koen orang-orang tersebut bersikap eksklusif mau terbuka dengan orang lain. Berdiskusi tentang keadaannya di dalam suatu organisasi. "Nah kebanyakan dari mereka (korban) kan menutup diri.”

Selain pencegahan internal, Prof. Koen mendesak negara serius menangani kasus aliran sesat. Negara cenderung terlambat mengantisipasi kasus aliran sesat.

Menurut Prof. Koen,"Sayang negara tidak hadir,dalam posisi mereka yang membelok. Padahal untuk menghilangkan aliran sesat membutuhkan kerjasama dari semua elemen. Meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan negara." |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next