Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Indonesia masih jauh dari kebangkitan Featured

Indonesia masih jauh dari kebangkitan
Surabaya - KoPi | 20 Mei merupakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Deklarasi mengenai kebangkitan ini didasarkan pada tanggal berdirinya perkumpulan yang dinamakan Budi Oetomo. Budi Oetomo sendiri lahir atas miskinnya pendidikan bangsa Indonesia yang telah dijajah ratusan tahun oleh Belanda.

Perkumpulan tersebut bertujuan untuk mencapai sesuatu berdasarkan keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, dan juga kemahiran. Namun, apakah indonesia telah bangkit secara utuh saat ini?

Menurut pandangan masyarakat Surabaya, Indonesia masih jauh dari kebangkitan. Yogi, selaku karyawan swasta di Surabaya menilai kebudayaan negatif yang tertanam di masyarakat Indonesia membuat Indonesia sulit untuk bangkit.

“Korupsi, kekerasan, sering melakukan kesalahan yang sama adalah bentuk bahwa Indonesia sama sekali belum bangkit. Dan masih jatuh terpuruk,” ujarnya.

Pak Suleman, tukang becak yang biasa beroperasi di kawasan Stasiun Gubeng Surabaya juga menilai bahwa Indonesia sama sekali belum bangkit. “Bangkit dari mana toh Mbak, orang susah kayak saya saja masih banyak. Sudah bangkit itu kalau masyarakatnya makmur, sejahtera, gak ada orang miskin,” ujar Suleman.

Lain lagi dengan Rahma, mahasiswi sebuah universitas di Surabaya yang menilai Indonesia sedang tahap proses menuju kebangkitan. Adanya sistem penerapan yang baik merupakan jalan untuk mengangkat Indonesia dari keterpurukan.

“Sedang bangkit, tidak terlalu terpuruk tapi belum tegak. Makanya pejabat-pejabat dibangkitkan moral dan etikanya, karena mereka itu contoh. Jadi ketika kebangkitan moral mereka sudah ada, mental masyarakat akan mengikuti,” ujar Rahma.

Apakah Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia hanya tameng belaka? Tameng bahwa Indonesia pernah bangkit, sedangkan saat ini justru semakin terpuruk. Mentalitas masyarakat dan pejabat diyakini sebagai penyebab Indonesia masih jauh dari kebangkitan.

“Seharusnya Hari Kebangkitan Nasional itu tidak sekedar disuarakan hanya dalam satu hari besar. Setiap hari seharusnya pemimpin Indonesia menyuarakan untuk bangkit. Kalau cuma dijadikan hari besar seperti ini, justru membuat semangat bangkit hanya muncul setahun sekali,” lanjut Rahma. | Labibah

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next