Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pesan 'njaga bumi' Songgo Buwono burger Jawa

Pesan 'njaga bumi' Songgo Buwono burger Jawa

Jogjakarta-KoPi| Ketika semburat senja mulai nampak, sekitaran pukul 15.30 pengunjung mulai memadati kampung Ramadhan Jogokaryan. Tampak pula kesibukan para pedagang menjajakan dagangannya.

Masjid Jogokaryan sejak awal bulan puasa mengadakan kampung Ramadhan. Keramaian kampung ini sangat terasa ketika maghrib menjelang. Ratusan lapak berjejer rapi memanjang dari ujung ke ujung. Lapak-lapak menyediakan jajanan, aneka minuman hingga pakaian muslimah.

Satu lapak yang menarik perhatian koranopini.com, lapak Songgo Buwono. Sebuah lapak milik Pak Joko dan istrinya menyediakan makanan khas Jogja.

Ya, Songgo Buwono sejenis burger ala Jawa. Namun berbeda dengan burger luar negeri, burger ini begitu ‘njawani’ rasanya.
Menurut Sang chefnya, Pak Joko menuturkan Songgo Buwono merupakan makanan khas Jogja sama dengan gudeg. Perbedaannya gudeg berasal dari Jawa asli sementara Songgo Buwono mengadaptasi makanan asal Jerman ini.

Songgo buwono merupakan makanan tradisional Jogja semasa pemerintahan Sultan HB VII. Sewaktu gencar-gencarnya promosi burger, sultan mengcounter dengan menggalakan Songgo Buwono.

“ Tidak seperti jungfood terutama burger, songgo buwono lebih sehat. Kita tahu burger sausnya saja bisa tahan setahun. Songgo Buwono lebih sehat dan bergizi”, tutur Pak Joko.

Pak Joko menambahkan Songgo Buwono memiliki banyak filosofi. “ Selada Songgo Buwono posisinya di bawah simbol dari pepohonan yang menyangga bumi. Di dalam bumi ada rogut mengidentifikasi penduduk bumi. Ada telur menyimbolkan gunung, fla menggambarkan langit dan acarnya sebagai bintang”, papar Pak Joko.

Sebongkah Songgo Buwono menyampaian dua pesan. Pertama, rakyat Jogja memakan makanan yang sehat dan bergizi. Kedua rakyat Jogja mampu menjaga kelestarian alam.

“ Awalnya Songgo Buwono makanan priyayi yang ada kalau nikahan orang kraton. Seiringnya waktu siapa saja bisa menyantap Songgo Buwono”, pungkas Pak Joko.
Satu buah Songgo Buwono dibandrol harga Rp 10.000. Rasa burger jawa yang mengajarkan arti kehidupan di dalamnnya. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next