Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pesan 'njaga bumi' Songgo Buwono burger Jawa

Pesan 'njaga bumi' Songgo Buwono burger Jawa

Jogjakarta-KoPi| Ketika semburat senja mulai nampak, sekitaran pukul 15.30 pengunjung mulai memadati kampung Ramadhan Jogokaryan. Tampak pula kesibukan para pedagang menjajakan dagangannya.

Masjid Jogokaryan sejak awal bulan puasa mengadakan kampung Ramadhan. Keramaian kampung ini sangat terasa ketika maghrib menjelang. Ratusan lapak berjejer rapi memanjang dari ujung ke ujung. Lapak-lapak menyediakan jajanan, aneka minuman hingga pakaian muslimah.

Satu lapak yang menarik perhatian koranopini.com, lapak Songgo Buwono. Sebuah lapak milik Pak Joko dan istrinya menyediakan makanan khas Jogja.

Ya, Songgo Buwono sejenis burger ala Jawa. Namun berbeda dengan burger luar negeri, burger ini begitu ‘njawani’ rasanya.
Menurut Sang chefnya, Pak Joko menuturkan Songgo Buwono merupakan makanan khas Jogja sama dengan gudeg. Perbedaannya gudeg berasal dari Jawa asli sementara Songgo Buwono mengadaptasi makanan asal Jerman ini.

Songgo buwono merupakan makanan tradisional Jogja semasa pemerintahan Sultan HB VII. Sewaktu gencar-gencarnya promosi burger, sultan mengcounter dengan menggalakan Songgo Buwono.

“ Tidak seperti jungfood terutama burger, songgo buwono lebih sehat. Kita tahu burger sausnya saja bisa tahan setahun. Songgo Buwono lebih sehat dan bergizi”, tutur Pak Joko.

Pak Joko menambahkan Songgo Buwono memiliki banyak filosofi. “ Selada Songgo Buwono posisinya di bawah simbol dari pepohonan yang menyangga bumi. Di dalam bumi ada rogut mengidentifikasi penduduk bumi. Ada telur menyimbolkan gunung, fla menggambarkan langit dan acarnya sebagai bintang”, papar Pak Joko.

Sebongkah Songgo Buwono menyampaian dua pesan. Pertama, rakyat Jogja memakan makanan yang sehat dan bergizi. Kedua rakyat Jogja mampu menjaga kelestarian alam.

“ Awalnya Songgo Buwono makanan priyayi yang ada kalau nikahan orang kraton. Seiringnya waktu siapa saja bisa menyantap Songgo Buwono”, pungkas Pak Joko.
Satu buah Songgo Buwono dibandrol harga Rp 10.000. Rasa burger jawa yang mengajarkan arti kehidupan di dalamnnya. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next