Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Gelar sultan : Arti Buwono menjadi Bawono, jauh berbeda

Gelar sultan : Arti Buwono menjadi Bawono, jauh berbeda

Jogjakarta-KoPi| “Penetapan sudah sejak zaman Demak, Pajang sampai Mataram Islam ya harus kailfatullah, orang pada derajat ketakwaan. Kalau orang gak takwa disuruh mimpin masyarakat ya ga boleh”, tegas Kyai Agus Sunyoto.

Dalam kesempatan menjadi narasumber seminar Revitalisasi Islam Jawa di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Kyai Agus Sunyoto memaparkan esensi kalifatullah.

Penghapusan gelar kalifatullah sultan dianggap telah melanggar tradisi penetapan gelar sejak zaman Mataram Islam. Upaya sultan HB X mengganti gelar dengan tiba-tiba tanpa didasari dengan musyawarah bisa terbilang unsur kesewenangan semata.

“Jadi kekuasaan tungal itu gak ada, waktu zaman Demak dan zaman Pajang itu harus ada dewan wali songo yang memutuskan. Dulu keluarga sebagai penasehat kan ada. Nah sekarang apa ada? Sultan tidak ada penasehat ini rawan. Sekarang apa ada institusi atau figur lain yang lebih tinggi dari sultan, itu gak ada”, papar Kyai Agus Sunyoto.

Hal lain yang disoroti oleh Kyai Agus Sunyoto mengenai perubahan ‘Buwono’ menjadi ‘bawono’. Menurutnya perubahan nama tersebut telah bergeser jauh dari makna aslinya.

“ Nah ini termasuk ketidakmengertian dengan arti istilah Jawa. Dari Buwono diganti dengan Bawono, Buwono artinya itu dunia, nah Bawono itu konsep, kan jauh. Ini simbol ini gak nyambung”, ujar Kyai Agus Sunyoto.
|Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next