Menu
Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

First Travel Jakarta yang bermasalah belum ditemukan di Yogyakarta

First Travel Jakarta yang bermasala…

Jogja-KoPi|Kementrian Aga...

674 Warga binaan Lapas DIY mendapat remisi Umum HUT RI 2017

674 Warga binaan Lapas DIY mendapat…

Jogja-KoPi|Kementrian Huk...

Prev Next

Fisipol UGM menggugat asap Featured

Fisipol UGM menggugat asap


Akar masalah bencana kabut asap adalah keuntungan ekonomi yang didapat dari pembukaan lahan perkebunan sawit secara tidak bertanggung jawab oleh oknum di industri perkebunan sawit dan jaringan politiknya. Publik melalui kesadaran, sikap dan aksi kolektifnya bisa berperan melanggengkan maupun sebaliknya menghentikan praktik ini.


Jogjakarta-KoPi| Menangani kabut asap merupakan agenda jangka panjang yang sebaiknya menjadi perhatian masyarakat luas. Saat ini penanganan masih difokuskan untuk menanggulangi kebakaran lahan dan kabut asap serta dampak turunannya, tanpa diikuti upaya berkelanjutan untuk mengatasi kondisi struktural yang menyebabkan terjadinya praktik pembakaran lahan.
 
“Tanpa kesadaran, sikap dan aksi kolektif yang kuat untuk menangani akar permasalahan kabut asap, masyarakat Indonsia kemungkinan besar masih akan menghadapi bencana serupa setiap tahun”, kata Dr. Maharani Hapsari, Managing Director Institute of International Studies, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada.
 
Maharani menjelaskan bahwa akar kabut asap adalah keuntungan ekonomi pembukaan lahan perkebunan sawit secara tidak bertanggung jawab. Hal ini juga melibatkan jaringan aktor yang luas, sementara argumen yang banyak beredar sangat menyudutkan masyarakat lokal yang selalu dianggap oportunis.

“Agak sulit menerima pendapat bahwa bencana asap dengan skala masif dan sebesar ini semata-mata karena pembakaran lahan oleh masyarakat, tanpa menghiraukan bagaimana mereka berfungsi dalam jaringan politik yang lebih luas. Yang perlu dibongkar justru adalah jaringan politik ini,” tegasnya.
 
Tindakan hukum terkendala politisasi isu terutama oleh aktor-aktor yang paling diuntungkan dari pembakaran lahan. Dengan memanfaatkan argumen posisi sawit sebagai komoditas ekonomi nasional yang strategis, oknum-oknum korporasi, pejabat pemerintah, dan aparat memainkan pengaruh politiknya di pusat maupun di daerah.
 
Lebih buruk lagi, mereka yang paling diuntungkan dari pembakaran lahan ini tidak digugat karena dianggap tidak langsung terlibat dalam aksi pembakaran. Kabut asap berlarut-larut karena bagian besar persoalannya justru gagal dibongkar.Padahal perhatian terhadap isu-isu politik ini sangat menentukan sikap publik untuk mencari penyelesaian jangka panjang.
 
Sikap diam dan penyederhanaan isu sehingga bencana kabut asap tampaknya telah menjadi sesuatu yang dianggap ‘normal’ ini telah mematikan sikap kritis. Minyak sawit adalah bagian tidak terpisahkan dari pengalaman konsumsi sehari-hari masyarakat. Ketergantungan terhadap konsumsi produk-produk konsumen, makanan dan bahan bakar kendaraan berbahan dasar minyak sawit tanpa menghiraukan bagaimana produk itu dihasilkan, menjadi bagian dari ‘normalisasi’ bencana kabut asap karena melanggengkan praktek-praktek tidak bertanggungjawab oleh oknum-oknum dalam industri perkebunan sawit dan jaringan politiknya.
 
Masyarakat sebagai konsumen berpeluang membangun aksi kolektif untuk mengatasi akar persoalan. Melalui sikap kritis dan aktif, perilaku perusahaan dalam menjalankan etika bisnisnya dapat secara gradual dikontrol dan diubah. Tentu saja hal ini perlu dilihat sebagai komitmen jangka panjang.

Semangat ini menjadi dasar bagi akademisi, lembaga-lembaga penelitian, aktivis, relawan, dan seniman untuk menggelar aksi damai bertema “Menolak Asap, Menolak Diam” pada tanggal 10 November 2015 pukul 18.30-21.00 WIB bertempat di Selasar Timur FISIPOL UGM. Kegiatan ini bertujuan refleksif, membangun kesadaran bersama bahwa masalah asap adalah masalah politik, dan masyarakat dapat berperan aktif  menghentikan tragedi kabut asap yang sudah belasan tahun dialami bangsa ini. Dalam jangka panjang, kegiatan ini menjadi bagian dari pembentukan komunitas yang akan secara konsisten melakukan transformasi di berbagai ranah.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next