Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Filosofi 'ikhlas' di balik jemparingan

Jogjakarta-KoPi|Kebanyakan orang memanadang jemparingan atau panahan pada aktivitas teknisnya, dengan mengabaikan sisi filosofinya. Meskipun Jemparingan kini telah terpecah menjadi dua yakni jemparingan lawasan dan Jemparingan modern namun nilai filosofinya masih tetap terjaga.

Perbedaan hanya terletak pada teknis dari cara menarik busur panahnya. jemparingan lawasan ditarik dengan posisi berdiri busur di bagian perut. Sementara jemparingan modern dengan posisi duduk atau lutut ditekuk dengan busur tanah sejajar dengan mulut.

Menurut pegiat Paseduluran jemparingan Langen Astro Hafiz Priotomo menjabarkan bagian-bagian dari jemparingan dengan jarak tempuh 30 meter ketika gladhen.

Nilai lokalnya terletak pada busur, sikap duduk, busana Jawa, proses gerak, dan gladhen. Busur terdiri dari cengkolak berati pegangan, lar berarti nalar, dan kendeng berarti usaha keras sehingga berarti orang hidup harus punya pegangan hidup yang berpikir dan bekerja keras.

“Selanjutnya sikap duduk dengan sila berarti aktivitas jemparingan bentuk relaksasi. Lalu busana Jawa dengan surjan memiliki makna bajunya dengan enam kancing menggambarkan enam rukun iman, terus ada dua di kanan dan kiri menggambarkan dua kalimat syahadat, baju menggambarkan kesiapsiagaan, proses gerak cipta mewakili kebulatad tekad yang bisa menggerakan gandewo (busur)” papar Hafiz.

Ketika anak panah lepas, itu ada proses keikhlasan sehingga secara total jemparingan melatih kerja keras, kerja cerdas, ikhlas dan evaluasi diri ketika anak panah tidak tepat sasaran.
|Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next