Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Festival Sastra Asean 2015 di Jakarta

Festival Sastra Asean 2015 di Jakarta

Jakarta-KoPi| ASEAN Literary Festival 2015 akan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 21-23 Maret 2014. Festival ini gratis untuk umum, dan pendaftaran terbuka secara umum dan siapa saja yang ingin mengikuti, terutama lokakarya dan diskusi. Panitia juga menyediakan sertifikat bagi peserta.

Agenda acara ASEAN Literary Festival meliputi:

Workshop "Beyond Poetry Reading"

Workshop ini terinspirasi oleh penyair terbesar di Indonesia,WS. Rendra. Melalui aksi poetry readingnya, puisi menjadi tidak sekedar membaca puisi atau deklamasi. Aksi poetry reading Rendra mampu menarik massa dan membangunkan kesadaran masyarakat banyak. Workshop ini akan menghadirkan dua pembicara.

Diskusi (1) Sastra Kontemporer Asean

Dalam sesi ini, festival ini akan membahas tentang sastra kontemporer di kawasan ini dan posisinya di antara sastra dunia. Bagi sebagian orang di Indonesia, mereka mungkin tidak akrab dengan karya-karya sastra dari penulis Malaysia, Philipina, Vietnam, Singapura, dan negara-negara ASEAN lainnya. Apa membuat perbedaan antara mereka dan tema mereka?

Diskusi (2) "Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Sastra"

Setiap pemerintahan mempengaruhi karya sastra di sebuah negara. Dengan latar belakang yang berbeda, masing-masing negara juga memiliki cara yang berbeda untuk bercerita. Selain itu, dalam sesi ini, festival ini juga berusaha bagaimana  sastra berbicara tentang prinsip-prinsip hak asasi manusia dan demokratisasi.

Diskusi (3) "Karya sastra di bawah Rezim totaliter"

Sangat menarik untuk melihat bagaimana karya sastra mewakili suara di dua rezim totaliter: Soeharto di Indonesia dan Marcos di Filipina. Apakah ada persamaan dan perbedaan di antara dua negara ini ketika masa itu?

Diskusi (4) "Sastra Asia Tenggara dan Kolonialisme"

Sebuah diskusi tentang bentuk sastra kontemporer di masa kolonial. Seperti kita ketahui, kolonialisme dan postkolonialisme, adalah topik yang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Diskusi (5) "Etnis, Agama dan Sastra"

Dalam sesi ini, festival ini akan membahas tentang peran karya sastra dalam mempromosikan perdamaian dan multikulturalisme, tidak hanya di negara-negara ASEAN, tetapi juga di negara-negara non-ASEAN. Peserta dapat mengusulkan karya sastra yang berbicara tentang konflik etnis dan agama, dan bagaimana penulis memecahkan masalah.

Diskusi (6) "Peran Sastra Terjemahan"

Membahas tentang keterbelakangan terjemahan sastra ASEAN, dan upaya untuk meningkatkannya.

Diskusi (7) "Kemanakah kritik sastra kita?"

Membahas peran kritikus dalam pengembangan dunia sastra dan tidak adanya kritik sastra kontemporer di Asean. Tidak saja di Indonesia, tetapi mungkin kita menemukan di negara lain. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Diskusi (8) "Perempuan dan Sastra"

Ini adalah diskusi yang akan berbicara lebih banyak tentang munculnya penulis perempuan di ASEAN, dan bagaimana perubahan lanskap sastra terjadi. Apakah benar bahwa kebanyakan penulis wanita sekarang membangun kesadaran melalui karya-karya mereka, terutama tentang hak asasi manusia, kebebasan dan kemanusiaan? Yang pasti, ini menarik untuk dibahas. (Info: Asean Literary Festival)

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next