Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Facebook salah satu perusahaan besar dinilai paling merusak

Facebook salah satu perusahaan besar dinilai paling merusak
Sleman-KoPi|Menteri Sekretaris Negara, sekaligus Ketua Majelis Wali Amanat UGM,Pratikno menekankan pentingnya membentuk komisi atau badan monitoring pada produk /perusahaan jenis disruptive innovation.
 
Pratikno mengatakan beberapa perusahaan populer saat ini memiliki potensi disruptive atau merusak pada masyarakat.
 
Ia mencontohkan perusahaan Facebook, Uber, dan Alibaba.com merupakan contoh perusahaan yang berdampak negatif dan memerlukan pemantauan yang lebih.
 
"Mereka ini (Facebook,Uber,Dll) contoh perusahaan yang disruptive, saya menyarankan agar ada pemantauan dan monitoring pada perusahaan tersebut agar dapat terkendali,"ujar Pratikno setelah ditemui pasca mengisi Workshop di Balai Senat UGM,Jumat (7/7).
 
Pratikno pun menjelaskan perusahaan tersebut mendapat titel disruptive Innovation karena produknya dan usaha yang mereka hasilkan. 
 
Menurut Pratikno perusahaan besar dan glonbal semcam Facebook mempunyai dampak disruptive yang cukup besar pada masyrakat. 
 
Pasalnya baik isi maupun konten Facebook sendiri memilki jumlah yang mampu mengalahkan jumlah berita yang dimuat di media surat kabar konvensional.
 
Meski demikian isi berita Facebook sendiri cenderung tidak bisa dipegang ke validan atau kebenarannya.
 
Ia juga menyebutkan Facebook menjadi penyebab banyaknya perusahaan koran konvensial gulung tikar karena kalah bersaing dengan isi berita Facebook.
 
"Coba hitung berapa koran konvensional yang ambruk akibat isi dan konten media sosial ini? Sangat banyak,"tuturnya
 
Begitu juga dengan perusahaan taksi online Uber dan Alibaba.com.Kedua perusahaan ini dapat menjalankan usaha mereka tanpa memiliki produk asli perusahaan. 
 
Akibatnya perusahaan taksi konvensional atau perusahaan merch yang memiliki produk asli sendiri kalah bersaing dengan Uber dan Alibaba.com.
 
Pratikno melanjutkan perlu ada  pembentukkan komisi atau unit khusus dalam memantau setiap gerka perusahaan disruptive ini.Tujuannya adalah agar semua pihak tidak terlambat dalam merespon inovasi disruptive sejenis tiga perusahaan tersebut.
 
"Tujuannya adalah mengantisipasi inovasi industri dan disruptive inovasi,prinsipnya adalah agar kita tidak tergagap dalam menghadapinya,"lanjutnya.
 
Ia pun memungkas saat mengisi workshop di UGM, UGM seharusnya segera membuat badan pemantuan disruptive innovation dalam menangani masalah ini.
 
Ia juga berharap dengan dibentuknya badan pemantuan di UGM,setidaknya UGM sebagai lembaga pendidikan dapat ikut berkontribusi dalam menghadapi masalah ini.| Syidiq Syaiful Ardli
back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next