Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Dr. Mukhtasor: Indonesia Tidak Boleh Diam Soal Montara

Dari kiri ke kanan : Frans Padak Demon-Ferdi Tanoni-Fary Franscis-H.Syahrulan Pua Sawa-Prof.Mukhtasor Dari kiri ke kanan : Frans Padak Demon-Ferdi Tanoni-Fary Franscis-H.Syahrulan Pua Sawa-Prof.Mukhtasor

Kupang-KoPi| Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya Prof Dr Ir Mukhtasor M.Eng, PhD mengatakan Pemerintah Indonesia tidak boleh diam dan membiarkan persoalan pencemaran Laut Timor berlalu begitu saja menyusul ledakan anjungan minyak Montara pada 2009.

"Pembiaran itu adalah bagian persoalan yang hanya akan memperburuk keadaan," katanya ketika dihubungi Antara, Jumat, setelah bersama Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) pimpinan Ferdi Tanoni melakukan audiens dengan pimpinan Komisi V DPR-RI di Jakarta, Kamis (27/10).

Audiens dengan Komisi V DPR-RI yang dipimpin ketuanya Farry Francis itu untuk meminta dukungan politik dari parlemen dalam upaya menyelesaikan kasus tumpahan minyak di Laut Timor menyusul ledakan anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009.

Prof Mukhtasor yang pernah melakukan studi ilmiah tentang kerugian sosial ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur akibat tumpahan minyak Montara itu melukiskan kasus pencemaran di Laut Timor merupakan kejahatan kemanusiaan terhadap masyarakat nelayan dan petani rumput laut di pesisir kepulauan NTT.

Ia mengatakan tumpahan minyak dari ladang minyak Montara yang dikelola PTTEP Australasia asal Thailand selama sekitar 75 hari itu, mengalir masuk ke wilayah perairan Indonesia di Laut Timor yang menjadi ladang kehidupan para nelayan dan petani rumput laut di NTT selama ini.

"Perekonomian para petani rumput laut dan nelayan hancur total akibat pencemaran tersebut, sehingga Pemerintah Indonesia tidak boleh diam dan membiarkan kasus itu berlalu begitu saja," ujarnya.

Atas dasar itu, pihaknya juga meminta dukungan politik dari Komisi V DPR-RI agar terus mendorong pemerintah agar lebih tegas, efektif dan lebih produktif dalam diplomasi dengan Australia untuk segera menyelesaikan masalah pencemaran tersebut.

Prof Mukhtasor mengatakan Komisi V DPR-RI yang antara lain membidangi masalah infrastruktur dan perhubungan itu berjanji akan menindaklanjuti apa yang telah disampaikannya bersama YPTB serta mendukung penuh langkah "class action" yang telah dilakukan oleh lebih dari 13.000 petani rumput laut terhadap PTTEP Australasia di Pengadilan Federal Australia di Sydney.

"Malu rasanya jika rakyatnya berjuang di luar negeri, sementara pemerintahannya sendiri sebagai orangtua hanya nyengir tak tergerak bertindak untuk membela rakyatnya," demikian Prof Mukhtasor.|Leo

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next