Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dengan seutas tali kami 'berbagi dan bermain'

Dengan seutas tali kami 'berbagi dan bermain'

"Jembatan Babarsari dan rapling pengobat phobia-ku, dan akhirnya keterusan menelusuri goa," ungkap Reza Ardiansyah.

Jogjakarta-KoPi| Jembatan Babarsari menjadi basce camp para penantang nyali dari Student Speleogical Cub (SSC) berkumpul. Di jembatan yang memiliki ketinggian kurang lebih 15 m ini mereka menguji nyali dengan menuruni jembatan dengan seutas tali.

Hal yang mereka lakukan ini bukan hanya untuk bermain-main dan demi kesenangan mereka saja, namun kegiatan ini merupakan salah satu persiapan untuk menelusuri licin dan dinginnya dinding gua yang akan mereka hadapi dalam penelitian dan kegiatan konservasi nanti.

Student Speleogical Cub merupakan salah satu organisasi yang berbasis penelitian lingkungan gua dan sekitarnya dengan tujuan untuk konservasi. Organisasi yang berdiri pada tahun 2013 ini beranggotakan 7 orang yang berasal dari berbagai latar belakang.

Ada yang berasal dari teknik Geologi, anak SMA, Geografi, broadcasting, Brimob Polri, TNI AD, Teknik Penerbangan, dan lain sebagainya.

SSC sebagai advokasi masyarakat

Meniti dengan menggunakan seutas tali memang pengalaman yang menakjubkan. Pengalaman asyik lainnya, perjalanan SSC menelusuri rerimbun hutan. Merambah tempat asing guna menemukan batu-batu besar berlubang untuk diteliti.

Pendiri SSC Mai Warman menyebutkan selama tiga tahun kelahiran SSC puluhan gua berhasil mereka masuki. Mulai dari goa di Jogja, Jawa Tengah, Nusa Tenggara hingga luar negeri seperti Malaysia.

Lanjut alumnus Fakultas Geografi UGM ini, penjelajahan mereka bukanlah untuk main-main sebagi pencinta alam biasa. Namun mereka membawa misi akademik yang nanti dipublikasikan ke masyarakat.

Mereka setidaknya mempersiapkan 14 item peralatan ekspedisi bekal memasuki gua. Tidak jarang, mereka harus melewati medan yang sulit. Namun dengan tekad, senyum bahagia akan merekah ketika mereka berhasil memasuki goa yang gelap dan terasing.

Mereka menelusuri badan goa yang kerap basah. Berjalan, tertatih hingga merangkak guna mengambil sampel penelitian.
Stalaktit, dan stalakmit beberapa sampel kecil yang mereka teliti. Jauh dari itu mereka juga meneliti kandungan air dalam goa.

"Kita meneliti goa Jomblang (lokasi goa sebuah iklan rokok), kita mengambil data vertikal goa," jelas Mai Warman saat dihubungi melalui telepon pada 23 Januari 2016.

Mai Warman menegaskan ekspedisi tersebut membawa tiga manfaat kepada masyarakat. Pertama, membantu masyarakat ketika menemukan sumber air dalam goa. Kedua, dari sektor ekonomi masyarakat mampu memanfaatkan goa sebagai tempat wisata.

Ketiga, dari segi akademis menambah pengetahuan mengenai goa-goa yang akan dipublikasikan ke masyarakat bahkan dunia.

Selain itu pengembangan dari segi akademis penelitian goa dapat menjadi senjata untuk melindungi goa dari ancaman pengrusakan. "Kita advokasi kasus Rembang (konflik pabrik semen Rembang), juga kasus goa di Sumba, kita beri data kalau goa tersebut tidak bisa untuk ditambang," papar mahasiswa angkatan 2005 ini.

Fungsi aplikatif sebagai advokasi kepada masyarakat inilah yang akan terus, Mai Warman dkk galakan. Mai Warman menargetkan akan mengkaderisasi SDM komunitas. Demi keberlanjutan misi membawa manfaat kepada masyarakat.    |Winda Efanur FS|Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next