Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Debus di tangan Desmond Mahesa

Debus di tangan Desmond Mahesa

Banten-KoPi | Desmond Mahesa, Ketua DPP Partai Gerindra, ternyata tidak semata mengurusi perkara hukum dan politik semata. Saat ini ia tengah menfasilitasi kesenian ‘debus’ asal Banten agar kembali terangkat ke permukaan. Melalui Padepokan Kandaka Banten, Desmon, mantan aktivis ’98 yang pernah menjadi korban penculikan ini, mencoba menampilkan sebuah pementasan teater musikal dalam konsep Debus in Harmony, Sabtu, (13/6).

Dalam konsep ini, debus tidak tampil sebagai awalnya, tetapi dipadu dengan seni yang lain dalam sebuah pertunjunkan teater. Menurutnya, meskipun ia merupakan Wakil Ketua Komisi III  DPRI, ia merasa punya tanggung jawab untuk ikut meletarikan kesenian khas Banten ini. Seni debus saat ini sudah jarang muncul dalam perhelatan kesenian, baik di Banten atau tempat lain. Untuk itu, harus ada yang mempelopori bangkitnya lagi kesenian unik ini.

“Kebanyakan mereka mengatakan tidak ada tempat (latihan), jadi kita membuat Padepokan Kandaka. Padepokan itulah yang mengadakan setiap kegiatan, saya sendiri hanya sebagai pembina. Operasionalnya ada Mas Didik, Lawi, dan Antonius”, paparnya.

Di dalam padepokan Kandaka berkumpul kesenian Banten seperti Ubruk dan Debus. Di dalamnya terdapat beberapa perguruan silat seperti Assyifa, dan Budi Luhur. Mereka biasa mengadakan latihan pada Sabtu-Minggu.
Mengenai pandangan mengangkat kesenian Debus ke taraf Internasional, Desmond memandang perlunya komitmen bersama untuk terus mengembangkan kesenian ini ke taraf lebih tinggi.  

“Komitmen bersama, saya memunyai tempat, dan mereka memunyai kegiatan, saya sebagai masyarakat Banten berkewajiban memfasilitasi mereka. Selain itu agar pentas ini menjadi ini pendapatan bagi mereka. Mereka bilang sama saya kalau tidak tersalurkan , para pesilat ini akan menjadi preman”, paparnya.

Menurut Desmond pementasan  teater debus yang disutradari Antonius Daryanto ini akan menjadi tontonan yang sangat menarik. Pasalnya, masyarakat tidak saja melihat tampilan debus semata, tetapi juga suguhan musik Banten yang telah diolah oleh Lawi secara khusus.

Hal ini juga untuk menangkis pandangan masyarakat tentang nihilnya musik khas Banten. Orang luar daerah cencerung bingung ketika mencari seni musik asli daerah Banten.

Debus in Harmony  ini juga sarat dengan syair bernafaskan Islam, terutama yang disadur dari syair dari Syeh Abdul Qodir Jailani.

Desmond berharap ke depan akan ada lagu-lagu atau musik khas Banten yang berpadu secara harmonis dengan debus. Sebuah seni inovatif yang menghibur dan tidak lagi terasa menyeramkan.

“Tidak ngeri, dengan keluarnya darah. Diinovasi agar debus tidak serem. Ke depan akan kita garap debus dengan musik format jazz. Perlu harmonisasi karena debus tarianya dengan golok ini,” pungkas Desmond.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next