Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Banjir Sleman karena pemerintah tidak konsekuen

Banjir Sleman karena pemerintah tidak konsekuen

Sleman-KoPi| Seminggu terakhir ini hujan deras mengguyur DIY hingga mengakibatkan banjir di wilayah Sleman. Selain banjir ketika memasuki musim kemarau pun beberapa wilayah di Jogjakarta mengalami kekeringan.

Menurut peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM (PSLH), Eko Sugiharto mengatakan derah Jogjakarta mengalami permasalahn lingkungan hidup yang komplek. Untuk model air ideal dengan adanya penyimpanan air tanah yang baik. Air hujan meresap ke wilayah Gunung Merapi hingga menjadi cadangan air tanah.

“ Semakin banyak air yang meresap ke dalam, sedikit air yang mengalir di atas permukaan tanah. Itu yang terus digalakan dengan adanya banyak pohon penghijauan. Sementara saat ini sebanyak 1/3 air meresap sedangkan sisanya 2/3 mengalir hilang di atas permukaan tanah ”, paparnya.

Mengenai hal ini, Eko menambahkan sebenarnya untuk wilayah Sleman pihak pemerintah sudah mengantisipasi dengan Perda. Dalam Perda salah satunya berisi poin larangan mendirikan bangunan pada radius tertentu sepanjang daerah hilir sungai.

Tetapi lagi-lagi terkendala pada lemahnya pengawasan pada pemberlakuan Perda tersebut. Permasalahnnya adanya kebijakannya tidak seiring dengan sanksi bagi pelanggar kebijakan.

“ Jarak sekian dari sungai tidak bisa mendirikan bangunan.  Tetapi kenyataanya ada bangunan hotel ada rumah-rumah dekat sungai. kita akademmisi meneriakan tidak begini, tapi nyatanya pemerintah memberikan ijin”, kritik Eko.

Eko menekankan pada pihak pemerintah untuk konsekuan dengan kebijakan yang ada. Jangan sampai pemerintah yang membuat, pemerintah pula yang melanggarnya. |Winda Efanur FS|



back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next