Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Ayip Rosidi kembalikan penghargaan Habibie Center

Ayip Rosidi kembalikan penghargaan Habibie Center

Budayawan Ajip Rosidi mengembalikan Habibie Award berupa uang dan piagam ke Yayasan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM-IPTEK), Habibie Center. Penghargaan yang diterimanya pada 2009 bidang kebudayaan ini pun dikembalikan melalui Satpam Habibie Center, Tri Susilo pada Kamis siang (26/5).

“Tidak ada yang mau menerima dan jadinya saya titip ke satpam,” kata Ajip saat jumpa pers di Pusat Dokumentasi Sejarah (PDS) H.B Jassin Jakarta, kamis (26/5).

Sebelumnya, Ajip mengaku telah membuat janji dengan Ketua Yayasan SDM Iptek Habibie Center, Wardiman Djojonegoro. Namun sayangnya, orang yang dimaksud tidak ada di tempat.

Pada dasarnya, Ajip merasa bangga terhadap BJ Habibie yang setiap tahun acap memberikan Habibie Award kepada para ilmuwan, seniman, dan budayawan. Terlebih saat dirinya dinobatkan sebagai penerima pada 2009 di bidang kebudayaan.

Akan tetapi rasa kebanggaan ini beralih kekecewaan saat tim juri memberikan award kepada Prof Nina Lubis pada 2015. Ajip menilai, sosok Nina bukan orang tepat yang mendapatkan penghargaan tinggi tersebut. Sebab, Nina telah melakukan berbagai tindakan plagiat atas buku-buku yang pernah dibuatnya.

Contohnya, buku Negarawan dari Desa Cinta yang pada dasarnya karya dari mahasiswa bimbingannya, Elly Maryam. Elly Maryam dari Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menulis skripsi Peranan dan Pemikiran Mohammad Sanusi Hardjadinata dalam Politik di Indonesia (1945-1985) pada 2003. Tidak ada nama mahasiswa tersebut pada buku yang ditulis atas nama Nina ini.

Tidak hanya berhenti di sini, Nina pun juga telah melakukan hal sama dalam penulisan bahan tentang KH Nur Ali. Ajip juga menerangkan, Nina telah meringkas habis-habisan roman karya Pramoedya tentang Tirto Adhi Soerjo untuk dijadikan tulisannya.

Bahkan, ia melanjutkan, informasinya Nina selalu berkirim surat ke pemerintah daerah untuk proyek penulisan buku tentang pahlawan yang ingin ditetapkan secara nasional. “Dia nulis bukunya sangat sembrono,” tegas Ajip.

Habibie merupakan sosok luar biasa yang sangat patut dibanggakan. Karena kasus ini, niat baik BJ Habibie yang begitu mulia pun telah dimanfaatkan oleh kepentingan pribadi. “Habibie award telah kecolongan,” jelas Ajip. |Republika

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next