Menu
SKK Migas Wilayah Timur Berharap Adanya Dorongan di Luar Bidang Migas.

SKK Migas Wilayah Timur Berharap Ad…

Sleman-KoPi| Kepala Sat...

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

Prev Next

AS Hikam sebut Cak Nun lebay dan menyesatkan tentang ISIS

AS Hikam sebut Cak Nun lebay dan menyesatkan tentang ISIS

KoPi| Penyataan Budayawan Emha Ainun Najib yang mengatakan ISIS adalah rekayasa kepentingan Barat, seperti yang dilansir Kompas dari Antara, 4 April 2015 mendapatkan bantahan keras peneliti senior dan mantan Menteri Riset dan Teknologi zaman Presiden Abdurahman Wachid, AS Hikam, dalam status FBnya Sabtu, 4 April 2015.

AS Hikam memberi judul bantahannya "MEREMEHKAN BAHAYA ISIS, TINDAKAN TAK BERTANGGUNGJAWAB." Berikut isi  artikel AS Hikam.

Statemen Emha Ainun Najib (EAN) bahwa ISIS hanyalah sekadar rekayasa untuk mengacaukan Timur Tengah, saya kira terlalu lebay dan menggampangkan masalah, serta berdampak menyesatkan.

Tidak jelas apa yang dia maksud sebagai rekayasa tersebut. Saya khawatir yang dia maksud sama dengan berbagai teori konspirasi yang berdar di kalangan masyarakat, yang isinya terlalu sederhana: menyalahkan AS dan negara-negara di Etpa serta Timur Tengah yang lain, seolah-olah mereka yang membuat dan menyeponsori ISIS utk kepentingan geopolitik.

Jika hanya itu pemahamannya, maka EAN tidak memahami dimensi-dimensi lain yang terkait dengan ISIS, termasuk di dalamnya dimensi ideologi, politik-ekonomi, dan keagamaan.Sebagai budayawan tentu merupakan hak EAN utk menyuarakan aspirasinya tentang apapun yang dianggapnya penting. Namun demikian, menyuarakan masalah tanpa memahami secara mendalam dan didukung oleh bukti dan argumen yang nalar, bisa sangat menyesatkan dan bahkan membahayakan bagi masyarakat, termasuk ummat Islam di Indonesia.

Tentu saya tidak tahu apa motif EAN dg statemen lebay ini. Apakah ia bersimpati terhadap gagasan dan gerakan Islam radikal seperti Al-Qaeda atau ISIS dan gerakan-gerakan seperti itu di Indonesia? Ataukah statemen itu hanya sensasionalisme supaya menarik perhatian publik kepada dirinya? Wallhua'lam.

Saya menolak dengan tegas pandangan-pandangan simplistik seperti yang dilontarkan EAN tsb, karena gagasan dan gerakan-gerakan radikal seperti Al-Qaeda dan ISIS adalah bahaya yang riil dan bukan sekadar rekayasa negara-negara seperti AS. Dalam sejarah politik dan dinamika geopolitik Timur Tengah serta dunia Islam, ideologi transnasional yang menyebarkan kekerasan dan diiringi oleh munculnya kelompok-kelompok dan organisasi radikal seperti itu sangat mudah untuk ditemukan di dalam berbagai literatur.

Indonesia sebagai negara bangsa yang bukan negara Islam, juga sudah mengalami sendiri ancaman dari kelompok-kelompok radikal seperti itu. Dan mereka tumbuh serta berkembang tanpa harus mendapat dukungan dari luar. jadi kalaupun ada pengaruh dari negara-negara seperti AS, EU, Israel, dan berbagai negara Timteng lain, saya kira bukan berarti bahwa ideologi radikal dan kelompok-kelompoknya tidak bisa tumbuh dan berkembang sendiri.

Para penyelenggara negara dan tokoh dalam masyarakat sipil seharusnya tidak menyepelekan ancaman yang muncul dari ideologi dan gerakan radikal seperti ISIS. Pemahaman yang hanya setengah-setengah seperti yang dimiliki EAN bukan saja tidak membantu kepada peningkatan pemahaman dan kewaspadaan ummat, tetapi juga berbahaya bagi kamnas.

Omongan EAN jelas akan dimanfaatkan oleh pendukung Igaras dan digunakan sebagai alat propaganda yang memperlemah kewaspadaan kita. Demikian AS Hikam berpendapat.|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next