Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Ana 'arang' warisan simbah, buat hidup

Ana 'arang' warisan simbah, buat hidup

Yogyakarta- KoPi|Seorang ibu paruh baya berdiri memegangi sepedanya. Tak lama, seorang ibu berkacamata berjalan ke arahnya sambil menenteng kresek merah di kedua tangannya. Si ibu berkacamata meletakan plastik itu ke dalam dua keranjang sepeda si ibu. Sedikit bercakap-cakap si ibu bersepeda mengayuh sepedanya pergi. Sementara si ibu berkacamata masuk ke tokonya.

Sebuah toko di pinggir jalan Prambanan- Piyungan ini lokasinya sangat menyolok mata pengendara jalan. Padahal sebelah kanan kirinya areal persawahan. Menuruti rasa penasaran KoPi menyambangi toko tersebut. Ketika masuk berjejal produk gerabah menyesaki toko. Terlihat ukuran toko yang tak sepadan, namun onggokan karya tanah liat ini, memaksa meminta tempat.

Ketika masuk KoPi disambut kresek-kresek yang berceceran di tanah. Tampak si ibu berkacamata tadi sibuk memunguti arang dimasukan ke dalam kresek lalu  menimbangnya. KoPi mencoba menggali informasi dengan si ibu berkacamata.
Raut wajah yang lelah itu tersenyum, hingga mengantarkan sebuah percakapan yang menggugah. Meskipun kata demi kata terucap dengan hati-hati, tidak mengurangi keutuhan kisahnya.

Dialah Ana, seorang ibu beranak satu yang menggantungkan hidup dengan berjualan arang dan gerabah. Sebuah pilihan menjadi penjual arang karena terinspirasi dari simbahnya.
“Simbah dulunya sukses jualan arang, saya dulu ikut simbah jualan. Namun setelah gempa Jogja 2006 saya buka toko sendiri. Tapi saat ini simbah sudah meninggal yang pegang tokonya, adik dari budhe”, tuturnya.

Ana melakoni aktivitasnya dari jam 05.00 pagi hingga 17.30 sore. Dalam mengelola toko, dirinya dibantu oleh oleh budhe dan saudaranya. Namun Ana yang bertugas penuh mengurusi penjualan di depan. Sementara saudaranya pada sisi manajemen toko.
Kalau tampak dari depan terlihat toko gerabah biasa namun sebenarnya jualan pokoknya arang. Aneka gerabah dari kasongan, produk kerajinan lainnya hanya titipan.
Untuk arangnya sendiri mendapat pasokan dari Jawa timur seperti Pacitan dan Kediri. Satu pasokan satu truk. Dalam satu truk memuat 100-200 karung arang. Kemudian arang ini diecer dalam beberapa kemasan. Ukuran 1,3 Kg seharga Rp 3.000, selain itu juga ada yang versi mini harga satuan seribu atau dua ribu. Ukuran jumbo 2,3 Kg/ kresek seharga Rp 8.000.

Ana juga mengeluhkan layaknya kondisi jualan lainnya, untuk arang susah diprediksi lakunya. Hal itu tergantung kulakan. Menurut Ana sudah syukur ketika sehari cuma laku lima karung karung. Kalau ramai paling banyak laku 15 karung.
“Kalau jualan kayak gini ga tentu kadang sepi, kadang rame.  Nah, keuntungan sehari nggak pernah ngitung-e mbak, kalau keuntungan kotornya bisa sampai Rp 300-400 ribu”, pungkasnya.

Bagi perempuan lulusan SD ini besaran uang itu lumayan, setidaknya mampu membiayai keluarganya. Ana bersyukur bisnis arang warisan mbahnya bisa menafkahi hidupnya. Walaupun arang bukan dagangan mainstream. Di titik itulah peluang untuk menjajakannya. Melalui arang kita bisa menikmati bakso atau menyantap sate.| Winda Efanur FS|
 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next