Menu
Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker ke PT. Vitapharm

Koperasi CPW Jatim Lakukan Kunker k…

Surabaya-KoPi| Koperasi...

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden Haro

Pameran patung Komroden H...

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde Karwo Paparkan Budaya Lokal di Jatim

Di Hadapan Peserta Lemhannas, Pakde…

Surabaya-KoPi| Gubernur...

Penyelesaian Kasus Montara “Test Case” Komitmen Persahabatan Australia

Penyelesaian Kasus Montara “Test Ca…

Kupang-KoPi| Laporan In...

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Muda Muslim Penting Untuk Cegah Radikalisme

Pemahaman Sikap dan Budaya Kaum Mud…

Bantul-KoPi| Radikalisa...

Menteri Nurbaya cabut gugatan pencemaran Laut Timor

Menteri Nurbaya cabut gugatan pence…

Kupang-KoPi| Korban pen...

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Demokrasi

Gus Ipul : Pers Merupakan Pilar Dem…

Gresik-KoPi| Di peringa...

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Digital  melalui Acara ‘Digital Future Discussion’

Mempopulerkan Kajian Masyarakat Dig…

Sleman-KoPi|Seiring den...

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat Jadikan Investasi Sebagai Gaya Hidup

Seminar KSPM UAJY Ajak Masyarakat J…

Sleman-KoPi| Pasar modal ...

Prev Next

Alasan Kota Banjar jatuh cinta pada Irma Bastaman

Alasan Kota Banjar jatuh cinta pada Irma Bastaman

Kota Banjar - KoPi | Dr. Hj. Irma Bastaman menjadi perbincangan di keseharian masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat. Kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini terdiri dari Etnis Sunda, Jawa Tengah, Cina, dan beberapa etnis lainnya. Sebagian besar penduduk Kota Banjar hidup sebagai pedagang, petani, dan pekerja kantoran baik pemerintahan maupun swasta.

 

(Foto: Irma Bastaman dipeluk oleh para pedagang kecil di Kota Banjar / Dok.: KoPi)

Mengapa Irma Bastaman menjadi perbincangan masyarakat Kota Banjar? Jawabannya karena figur ini dianggap dekat dengan semua kalangan masyarakat Kota Banjar. Kedekatan emosional serta pandangan tentang bagaimana mengelola kota yang pernah mendapat gelar Kota Transit secara lebih baik.

Banyak masyarakat yang memberi kesaksian bahwa Irma sering turun menemui masyarakat dari berbagai lapisan sosial, profesi pekerjaan, dan para ibu-ibu. 

Aktivitas turun kedalam kehidupan keseharian masyarakat ini dalam kaitan dengan upayanya pembelaan atau pemberdayaan masyarakat. Irma aktif terjun ke komunitas petani, pedagang, sampai pengajian. 

"Ibu Irma itu turun tidak bagi-bagi duit. Tapi bagi-bagi ilmu. Saya sendiri sebagai pedagang senang sekali ada tokoh yang bersedia berbagi ilmu seperti beliau ya. Saya jadi tahu apa itu cara manajemen bisnis kecil (sambil tertawa, red.)". Jelas Ibu Salama (42) seorang pedagang pecel Banjar.

Berbeda dengan Ibu Salama, Mang Ian (48) seorang pengayuh becak di sekitar Stasiun Kota Banjar,  sambil berkaca-kaca saat ditemui oleh reporter KoPi menjelaskan bahwa Irma Bastaman adalah pemimpin yang hatinya peka pada orang kecil.

"Saya pertama kali bertemu Ibu itu sudah lama sekali, itu saat Ibu masih muda. Saya waktu itu masih berjualan makanan. Nah sampai sore belum ada yang beli. Tahu-tahu ada seorang perempuan cantik mendekati. Dia tanya kok belum ada yang beli? Saya jawab 'iya betul neng'. Tanpa tawar menawar beliau beli semua. Ya Allah, saya bahagia. Sampai sekarang beliau masih saja baik. Ibu mah (Irma Bastaman, red.) hatinya membuat orang-orang seperti kami ini tenang dan cinta."

Perbincangan tentang sosok Irma Bastaman di Kota Banjar tidak lepas dari apa yang telah dia lakukan kepada masyarakat. Kiprah Irma pun mendapat perhatian dari pengamat sosial politik dari Universitas Airlangga, Fahrul Muzzaqi. Menurutnya masyarakat Kota Banjar wajar memperbincangkan pemimpin dengan komitmen pada rakyat.

"Sama ketika Jokowi turun ke masyarakat jauh sebelum jadi presiden. Tampaknya Irma Bastaman memang memiliki karakter dekat dengan masyarakat. Karakter itu dianggap jauh lebih baik berkali lipat dibandingkan dengan figur yang lebih suka bagi-bagi uang demi dipilih jadi walikota."

Saat ini masyarakat meminta agar Irma Bastaman bersedia maju sebagai walikota Kota Banjar, Jawa Tengah adalah fenomena yang baik dalam konteks demokrasi.

"Rakyat sudah belajar memilih pemimpin yang baik untuk masa depan merek sendiri dan wilayahnya (kota, red.)," pungkas Fahrul melalui telepon kepada KoPi. | A. Ginanjar

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next