Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

"Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu." Demikian Suwarjono, Ketua AJI mengatakan dalam sesi diskusi di Bulaksumur, University Club, UGM pada Sabtu, 4 Februari 2017.

Sleman-KoPi| Aliansi Jurnalis Independen(AJI) melawan hoax dengan cara melakukan pengawasan konten berita, pengawasan situs media yang mirip atau buatan robot, serta pengawasan berita yang mendorong rasionalitas, hingga tindakan yang mengarah ke regulasi pemblokiran. 

Beberapa pengawasan serta tindakan yang mengarah pada regulasi pemblokiran yang dilakukan dalam pelaksanaanya juga perlu diawasi. Ini dikarenakan pemblokiran ini juga menghalangi hak kebebasan berekspresi, sehingga kekritisan dalam menanggapi persoalan akan dibungkam beralaskan hoax. Untuk itu AJI menghimbau kepada semua media untuk bersama-sama melawan hoax.

"Media harus bersama-sama melawan hoax seperti dengan menampilkan konten news yang benar," kata Suwarjono.

"Dalam kode etik, media harus ada fakta, kepastian, dan faktual. Selama itu tidak ada dalam media, maka media tersebut perlu digarisbawahi sebagai media abal-abal, kenapa ditekankan? Karena media adalah jalan terakhir masyarakat untuk memverifikasi informasi," tambahnya.

Penyebab hoax

Suwarjono mengatakan terdapat tiga hal yang mendorong terjadinya hoax, yaitu pertumbuhan internet yang pesat tanpa adanya literasi media internet, perubahan perilaku pembaca konvensional ke digital, serta delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream.

Berdasarkan riset AJI yang rilis pada tahun 2017 terdapat sekitar 132 juta pengguna internet dengan pertumbuhan mencapai 51% yang tidak diimbangi dengan literasi penggunaan internet yang baik.

Suwarjono menjelaskan bahwa dengan tidak adanya literasi penggunaan internet yang baik dapat menimbulkan euforia atau kesenangan untuk menyebarkan informasi tanpa memverifikasi, dan mengecek kebenarannya sehingga menimbulkan hoax.

Kemudian, faktor kedua yang menjadi pendorong timbulnya hoax menurut Suwarjono adalah perubahan perilaku pembaca yang tadinya merupakan pembaca konvensional menjadi pembaca digital juga berperan dalam munculnya hoax.

"Kecendrungan era juga mempengaruhi, seperti orang-orang lebih memilih membaca berita atau informasi digital dibanding konvensional," jelasnya.

Di sisi lain, delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream menjadi penyebab terbesar terjadinya hoax. Suwarjono mengungkapkan kepentingan pemilik media dalam membuat berita membuat masyarakat tidak percaya lagi pada media.

 "Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu," jelasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

 

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next