Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

AJI : Kepentingan pemilik modal media mainstream salah satu faktor penyebar hoax

"Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu." Demikian Suwarjono, Ketua AJI mengatakan dalam sesi diskusi di Bulaksumur, University Club, UGM pada Sabtu, 4 Februari 2017.

Sleman-KoPi| Aliansi Jurnalis Independen(AJI) melawan hoax dengan cara melakukan pengawasan konten berita, pengawasan situs media yang mirip atau buatan robot, serta pengawasan berita yang mendorong rasionalitas, hingga tindakan yang mengarah ke regulasi pemblokiran. 

Beberapa pengawasan serta tindakan yang mengarah pada regulasi pemblokiran yang dilakukan dalam pelaksanaanya juga perlu diawasi. Ini dikarenakan pemblokiran ini juga menghalangi hak kebebasan berekspresi, sehingga kekritisan dalam menanggapi persoalan akan dibungkam beralaskan hoax. Untuk itu AJI menghimbau kepada semua media untuk bersama-sama melawan hoax.

"Media harus bersama-sama melawan hoax seperti dengan menampilkan konten news yang benar," kata Suwarjono.

"Dalam kode etik, media harus ada fakta, kepastian, dan faktual. Selama itu tidak ada dalam media, maka media tersebut perlu digarisbawahi sebagai media abal-abal, kenapa ditekankan? Karena media adalah jalan terakhir masyarakat untuk memverifikasi informasi," tambahnya.

Penyebab hoax

Suwarjono mengatakan terdapat tiga hal yang mendorong terjadinya hoax, yaitu pertumbuhan internet yang pesat tanpa adanya literasi media internet, perubahan perilaku pembaca konvensional ke digital, serta delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream.

Berdasarkan riset AJI yang rilis pada tahun 2017 terdapat sekitar 132 juta pengguna internet dengan pertumbuhan mencapai 51% yang tidak diimbangi dengan literasi penggunaan internet yang baik.

Suwarjono menjelaskan bahwa dengan tidak adanya literasi penggunaan internet yang baik dapat menimbulkan euforia atau kesenangan untuk menyebarkan informasi tanpa memverifikasi, dan mengecek kebenarannya sehingga menimbulkan hoax.

Kemudian, faktor kedua yang menjadi pendorong timbulnya hoax menurut Suwarjono adalah perubahan perilaku pembaca yang tadinya merupakan pembaca konvensional menjadi pembaca digital juga berperan dalam munculnya hoax.

"Kecendrungan era juga mempengaruhi, seperti orang-orang lebih memilih membaca berita atau informasi digital dibanding konvensional," jelasnya.

Di sisi lain, delegetimasi (ketidakpercayaan) masyarakat dengan media mainstream menjadi penyebab terbesar terjadinya hoax. Suwarjono mengungkapkan kepentingan pemilik media dalam membuat berita membuat masyarakat tidak percaya lagi pada media.

 "Kepentingan yang dimiliki pemilik media dalam membuat berita menyebabkan masyarakat tidak percaya lagi pada media. Media dianggap menjadi alat propaganda dimana kebenaran berada di pihak tertentu," jelasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

 

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next