Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ahok, antara kata dan tanya

Ahok, antara kata dan tanya
Jakarta-KoPi| Sekurang-kurangnya 70 aktivis dari berbagai kalangan hadir pada acara Kopi darat dan Ngobrol seru dengan tema “Mengritik (bukan) Membenci dan membenci (bukan) Mencintai” bersama Ahok Fans Club, Sabtu, 30 Mei 2015. Beberapa tokoh budaya datang seperti Jaya Suprana.
 
Menurut Jaya Suprana, kebijakan Ahok yang baik perlu didukung, tetapi kata-kata kotor yang keluar dari bibir Ahok penting dikritisi.
 
Hal senada disampaikan oleh Romo Setyo Wibowo, penulis buku “Mendidik Pemimpin dan Negarawan” juga melontarkan pujian atas kiprah Ahok. Menurutnya, pemimpin itu memang harus tegas, tekun dan gigih. Boleh marah asal dalam orientasi kebaikan apalagi ketika ketika berhadapan dengan ketidakadilan dan penindasan.
 
Sementara Ahmad Rifai’ie, pengacara kondang yang telah mendampingi beberapa kasus seperti KPK dan kasus yang menimpa artis ibu kota, memaparkan bahwa pemimpin yang tegas dan berani dalam memberantas korupsi mungkin hanya Ahok. Bahkan menurut Rifai’ie, Ahok tidak bisa disamakan dengan Risma Walikota Surabaya, Ridwan Kamil, Bandung, dan bahkan Jokowi.
 
Ahok melebihi dari itu semua, tegasnya, yang disambut dengan tepuk tangan peserta. Maksudnya prilaku-prilaku dan gaya kepemimpinanya belum pernah ada selama ini yang mencerminkan perubahan-perubahan yang lebih baik dalam menyelamatkan keuangan negara menuju good and clean governance. Sehingga nantinya akan dijadikan dasar dalam mengelolaan sistem pemerintahan. Demikian Rifai'e,
 
Menimpali Rifai’ie, Abdul Muiz Ghazali, dosen dan peneliti pluralisme di Insitut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, mengatakan dalam beberapa hal kerja dan kebijakan Ahok memang benar. Namun itu, demikian Muiz, Ahok harus sadar bahwa pemimpin bukan hanya sebatas pemerintah tapi pengabdi dan pendidik. Memiliki ide dan kebijakan yang menjulang tanpa dibarengi dengan pemahaman yang mumpuni dari masyarakat tentu tidak akan efektif atau bahkan tercipta resistensi. Karenanya, penting melakukan pendidikan yang baik bagi masyarakat khususnya tentang kebijakan yang hendak diimpelementasikan.
 
Nara Sumber terakhir, Harjo Winoto aktivis komunikasi politik, lebih mempertanyakan apakah pembelaan terhadap Ahok merupakan pembelaan terhadap kebenaran. Karena pada umumnya, demikian Harjo, orang selalu memandang musuh adalah dzalim dan kejam dan kita (pendukung) sebagai tertindas. Sehingga timbul upaya untuk membela diri. Pola pikir seperti ini patut didiskusikan ulang apakah yang kita lakukan saat ini berada posisi benar atau salah.
 
Pemaparan dari keempat nara sumber ini mendapat tanggapan yang beragam dari pesera. Zen Assegaf, pangamat Syiah Jakarta, misalanya mengatakan bahwa perbedaan agama tidak boleh lagi menjadi penghalang bagi seorang pemimpin. Faktanya, menurut Zen, orang menolak pemimpin di luar agamanya hanyalah segelintir saja. Mereka dibesarkan oleh anarkhisme yang membabi buta. Oleh karena itu, Zen meminta kepada non muslim apapun agamanya agar berani dan siap untuk memperbaiki bangsa ini. Lebih lanjut Zen mengharap perbedaan agama dan ras tidak boleh lagi menjadi isu yang yang layak untuk dikembangkan.
 
Uniknya, acara diskusi ini diramaikan dengan paduan musik etnis dari Katapel. Di sepanjang diskusi peserta disuguhi alunan lagu-lagu tentang cinta Nusantara; cinta Indonesia. Acara yang di moderatori Anton Daryanto (teaterawan) menutup acara diskusi dengan gelegar puisi “Aku Masih Melihat Indonesia Raya” menggaung di sebuah restoran Kartika n Resto kafe dimana acara diskusi ini digelar. Tepuk tangan dan teriakan histeris dari peserta membuat suasana makin hanyut dalam nasionalisme. 
 
Dalam wawancaranya, Maria Theresia Ninis penggagas acara ini, memaparkan bahwa diskusi ini digelar atas swadaya peserta, bukan dari politisi atau Ahok. Setidaknya ada dua alasan tujuan diskusi ini. Pertama, belajar memberi. Bahwa selama ini banyak masyarakat masih menunggu uluran tangan dari pemerintah untuk berbuat demi bangsa, padahal sekecil apapun masih banyak hal yang bisa dilakukan. Dan kedua, sebagai upaya memberikan sumbangsih bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara di tengah keterpurukaan etika dan ekonomi.
 
Diskusi yang berlangsung dari jam 16.00-20.00 WIB ini diakhiri dengan jabat tangan antar peserta dan narasumber. Tampak keakraban dan keceriaan di wajah mereka. | Dar
back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next