Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Laut lestari, industri perikanan untung

Laut lestari, industri perikanan untung
Surabaya - KoPi | Meski telah diakui sebagai salah satu negara penghasil produk perikanan terbesar di dunia, industri perikanan Indonesia dianggap masih belum sepenuhnya mengusung konsep berkelanjutan (sustainable). Dampaknya, beberapa produk perikanan Indonesia kurang mampu menembus pasar global.
 

Karena itu, WWF-Indonesia mengadakan kampanye untuk mewujudkan industri perikanan berkelanjutan. Salah satunya dengan mengajak industri makanan untuk tergabung dalam program Seafood Savers.

Direktur Kebijakan, Keberlanjutan, dan Transformasi WWF-Indonesia, Budi Wardhana, Kamis (11/6) mengatakan, perusahaan yang menjadi anggota Seafood Savers harus memenuhi beberapa langkah perbaikan. Hal tersebut untuk membuktikan komitmen mereka pada bisnis perikanan berkelanjutan. “Perusahaan dituntut melakukan aksi-aksi perbaikan sesuai dengan standar perikanan berkelanjutan yang didukung WWF,” ujarnya ketika ditemui di Surabaya.

Menurut Budi, seluruh langkah perbaikan tersebut telah tercantum dalam dokumen Rencana Kerja Perbaikan Perikanan. Dokumen tersebut disusun perusahaan bersama dengan WWF-Indonesia dan mengacu pada standar perikanan berkelanjutan Marine Stewardship Council (MSC) dan Aquaculture Stewardship Council (ASC). Perusahaan anggota Seafood Savers berkomitmen untuk menjalani periode perbaikan selama lima tahun dengan pemantauan secara berkala setiap enam bulan yang akan dilakukan oleh WWF-Indonesia.

Selain itu, anggota Seafood Savers juga wajib menjalani berbagai aktivitas perbaikan perikanan. Aktivitas tersebut antara lain pemenuhan terhadap syarat legalitas, pelaksanaan praktik penangkapan maupun budi daya yang ramah lingkungan, dukungan terhadap tata kelola menuju perikanan berkelanjutan, dukungan terhadap riset dan pengumpulan data, serta pemenuhan tanggung jawab sosial.

Tidak hanya melibatkan industri hulu, Budi juga menjelaskan WWF-Indonesia gencar mengupayakan keterlibatan sektor industri hilir. Salah satunya melalui kampanye Responsible Seafood 2015. Melalui program tersebut WWF-Indonesia mengajak usaha ritel dan jasa makanan produk seafood untuk mengucapkan ikrar untuk mencari tahu asal usul produk seafood yang mereka jual.

Mereka diminta mengumpulkan informasi mengenai asal dan rantai suplai produk seafood mereka. Informasi tersebut dapat berupa lokasi penangkapan atau budi daya, alat tangkap atau metode budi daya yang digunakan, waktu penangkapan atau waktu panen, jumlah pelaku usaha di sepanjang rantai suplai, dan lain-lain. Informasi tersebut dapat membantu identifikasi upaya perbaikan serta pengelolaan sektor perikanan. 

Hingga kini ada empat perusahaan yang telah berkomitmen sebagai anggota Seafood Savers. Keempat perusahaan tersebut adalah PT Mustika Minanusa Aurora, PT Samudera Eco Anugrah Indonesia, PT Hatindo Makmur, dan PT Satu Enam Delapan Benoa.

back to top