Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

“Apa jadinya negara maritim tanpa armada laut?”

“Apa jadinya negara maritim tanpa armada laut?”
Surabaya – KoPi| Salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo, yaitu pembangunan tol laut menjadi harapan bagi perwujudan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Rencananya, melalui pembangunan tol laut Jokowi akan mengembangkan 24 pelabuhan dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia. Selain itu, Jokowi juga akan menambah pengadaan kapal secara bertahap, mulai dari tahun 2015 hingga 2019. Memasuki tahun 2015 ini, apa arti visi Indonesia sebagai poros maritim dunia?
 

Guru Besar Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan pentingnya Indonesia untuk menjadi negara maritim. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin ASEAN, Indonesia harus menjadi negara maritim. Apalagi tahun 2015 ini akan menandai pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Karena itu, pembangunan armada pelayaran yang kuat harus menjadi fokus Indonesia saat ini.

Daniel berpendapat, jika ingin menjadi sebuah negara maritim yang kuat, Indonesia butuh perusahaan pelayaran yang kuat. Masalahnya selama ini pengembangan industri galangan kapal Indonesia tampaknya masih belum menjadi fokus pemerintah. Sama seperti pembangunan nasional yang selalu berfokus pada daratan, industri berat Indonesia tampaknya juga lebih banyak berkonsentrasi pada industri otomotif, yang notabene selalu berwawasan daratan.

Daniel menegaskan, tanpa memiliki armada laut yang kuat, visi maritim Indonesia tidak akan tercapai. “Apa jadinya negara maritim yang tidak punya armada laut?” tanya Ketua Dewan Pakar Jawa Timur ini.

Ia menambahkan, negara maritim harus mampu menunjukkan kehadiran armada lautnya di perairan laut yang penting. Penguatan armada laut bukan hanya mengenai pengembangan alustita TNI AL saja, melainkan juga penguatan armada pelayaran sebagai infrastruktur transportasi nasional.

Tantangan Indonesia ke depan adalah mematahkan dominasi pelabuhan Singapura. Karena itu, industri pelayaran dan galangan kapal Indonesia harus benar-benar disiapkan. “Gangguan terbesar Indonesia dalam mewujudkan visi menjadi poros maritim dunia adalah Singapura. Selama berpuluh-puluh tahun, Singapura telah menjadi titik strategis perdagangan dunia dan arus ekspor-impor,” kata Pakar Teknik Kelautan ini.

back to top