Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

“Apa jadinya negara maritim tanpa armada laut?”

“Apa jadinya negara maritim tanpa armada laut?”
Surabaya – KoPi| Salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo, yaitu pembangunan tol laut menjadi harapan bagi perwujudan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Rencananya, melalui pembangunan tol laut Jokowi akan mengembangkan 24 pelabuhan dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia. Selain itu, Jokowi juga akan menambah pengadaan kapal secara bertahap, mulai dari tahun 2015 hingga 2019. Memasuki tahun 2015 ini, apa arti visi Indonesia sebagai poros maritim dunia?
 

Guru Besar Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof. Daniel M. Rosyid menegaskan pentingnya Indonesia untuk menjadi negara maritim. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin ASEAN, Indonesia harus menjadi negara maritim. Apalagi tahun 2015 ini akan menandai pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Karena itu, pembangunan armada pelayaran yang kuat harus menjadi fokus Indonesia saat ini.

Daniel berpendapat, jika ingin menjadi sebuah negara maritim yang kuat, Indonesia butuh perusahaan pelayaran yang kuat. Masalahnya selama ini pengembangan industri galangan kapal Indonesia tampaknya masih belum menjadi fokus pemerintah. Sama seperti pembangunan nasional yang selalu berfokus pada daratan, industri berat Indonesia tampaknya juga lebih banyak berkonsentrasi pada industri otomotif, yang notabene selalu berwawasan daratan.

Daniel menegaskan, tanpa memiliki armada laut yang kuat, visi maritim Indonesia tidak akan tercapai. “Apa jadinya negara maritim yang tidak punya armada laut?” tanya Ketua Dewan Pakar Jawa Timur ini.

Ia menambahkan, negara maritim harus mampu menunjukkan kehadiran armada lautnya di perairan laut yang penting. Penguatan armada laut bukan hanya mengenai pengembangan alustita TNI AL saja, melainkan juga penguatan armada pelayaran sebagai infrastruktur transportasi nasional.

Tantangan Indonesia ke depan adalah mematahkan dominasi pelabuhan Singapura. Karena itu, industri pelayaran dan galangan kapal Indonesia harus benar-benar disiapkan. “Gangguan terbesar Indonesia dalam mewujudkan visi menjadi poros maritim dunia adalah Singapura. Selama berpuluh-puluh tahun, Singapura telah menjadi titik strategis perdagangan dunia dan arus ekspor-impor,” kata Pakar Teknik Kelautan ini.

back to top