Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Walhi Jatim serukan penyelamatan pantai dan pesisir Muncar

Walhi Jatim serukan penyelamatan pantai dan pesisir Muncar

PT Tirta Wahana Bali Internasional (PT TWBI) mengincar pasir laut di kawasan pantai dan pesisir Muncar, Rogojampi dan Kabat, Kabupaten Banyuwangi untuk digunakan mereklamasi Teluk Benoa, Bali.

Sebagaimana diketahui, PT TWBI berencana reklamasi Teluk Benoa dengan cara mengurug laut seluas 700 hektar, meskipun rencana ini sendiri telah ditolak oleh berbagai elemen masyarakat karena berpotensi merusak usaha konservasi pantai yang ditujukan demi kelestarian keanekaharagaman hayati, dan mengganggu basis perekonomian masyarakat yang berbasis maritim.

Untuk memuluskan usaha pengerukan pasir laut di Banyuwangi, PT TWBI telah bertemu dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan telah melakukan survey lokasi. Ijin melakukan pertambangan pasir laut sendiri sedang menunggu persetujuan Gubernur Jawa Timur. Padahal sebelumnya, usaha pengerukan serupa telah ditolak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Gubernur NTB, M. Zainul Majdi menyatakan bahwa pengerukan pasir akan merusak ekosistem lingkungan di wilayahnya.

Pengerukan pasir laut di Banyuwangi akan mengancam kelestarian kawasan pantai dan laut di wilayah tersebut. Ekosistem Pantai dan pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, berikut sumberdaya hayati yang terkandung di dalamnya memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat disekitarnya. Kehancuran ekologi kawasan pantai dan pesisir akan menimbulkan dampak yang luas seperti hilangnya biota laut yang menjadi sumber pendapatan masyarakat pesisir, serta ancaman bencana ekologis seperti abrasi dan banjir rob.Kawasan Muncar, Rogojampi dan Kabat adalah kawasan yang selama ini dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.

Di Muncar, menurut data BPS pada 2014, ada 12.714 jiwa yang berprofesi sebagai nelayan. Di wilayah Rogojampi dan Kabat sendiri, setidaknya 1.488 warganya bekerja di sektor perikanan. Jumlah tersebut belum memperhitungkan tenaga kerja yang bekerja pada 309 Unit Pengolahan Ikan yang tumbuh di wilayah tersebut.

Di Pelabuhan Muncar saja ada 27 industri penepungan ikan, 13 industri pengalengan ikan, dan 27 unit pembekuan ikan.Semua usaha perikanan dan ruang hidup nelayan sebagaimana dijelaskan diatas akan terancam jika Gubernur Jawa Timur memberi ijin penambangan pasir laut di kawasan tersebut.

Karena itu kami meminta dukungan seluruh masyarakat untuk MEMINTA GUBERNUR JAWA TIMUR DAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI MENOLAK PEMBERIAN IJIN PENAMBANGAN PASIR LAUT YANG DIAJUKAN OLEH PT TWBI DI KECAMATAN MUNCAR, ROGOJAMPI DAN KABAT, BANYUWANGI. Mari turut menandatangani petisi ini demi kelestarian ekologis kawasan pesisir, terhindarnya masyarakat dari ancaman bencana ekologis dan terjaganya sumber-sumber pendapatan masyarakat berbasis maritim.| Walhi Jatim

back to top