Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal
Surabaya - KoPi | Dunia menghadapi krisis air bersih yang semakin parah setiap tahun. Banyak yang belum menyadari krisis tersebut diakibatkan karena makin terpinggirkannya peran sungai dalam kehidupan sosial masyarakat.
 

Hal tersebut dikatakan Sekjen Kongres Sungai Indonesia 2015, Agus Gunawan Wibisono, Rabu (28/7) menjelang Pra Kongres Sungai Indonesia Jawa Timur, di Surabaya.

Agus mengatakan, secara keseluruhan, sungai sudah terpinggirkan dari prespektif pembangunan dan kehidupan masyarakat. "Itu terjadi mulai dari Daerah Aliran Sungai (DAS), Badan Sungai dari hulu, tengah, hilir, muara, wilayah pesisir, hingga perairan," ungkapnya.

Buktinya, sampai saat ini proses perusakan kualitas air di sungai masih tetap berjalan. Mulai dari penggundulan hutan, pembangunan perumahan di bantaran sungai, sampai pemanfaatan air untuk industri air minum yang semena-mena. Keruwetan persoalan itu juga ditambah dengan penanganan dan pengelolaan permasalahan sungai yang bersifat sektoral.

"Pada masa awal pembangunan, berbagai kawasan di perkotaan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan tersebut tidak terkendali, tidak sesuai dengan rencana tata ruang, tidak serasi dengan lingkungan, dan tidak selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan," keluh Agus.

Akibatnya, timbul masalah ketika lahan semakin terbatas. Masyarakat lalu menjadikan tepian sungai sebagai alternatif pemukiman, khususnya bagi kaum urban berpenghasilan rendah.

Persoalan lain yang juga menambah ruwetnya pengelolaan sungai di Indonesia, menurut Agus, adalah pergeseran paradigma akibat desakan modal. Hal itu mengakibatkan terbatasnya akses rakyat terhadap air. “Air yang awalnya sebagai public goods sekarang menjadi economic goods,” jelasnya.

back to top