Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal

Sungai Indonesia rusak karena konflik pembangunan dan desakan modal
Surabaya - KoPi | Dunia menghadapi krisis air bersih yang semakin parah setiap tahun. Banyak yang belum menyadari krisis tersebut diakibatkan karena makin terpinggirkannya peran sungai dalam kehidupan sosial masyarakat.
 

Hal tersebut dikatakan Sekjen Kongres Sungai Indonesia 2015, Agus Gunawan Wibisono, Rabu (28/7) menjelang Pra Kongres Sungai Indonesia Jawa Timur, di Surabaya.

Agus mengatakan, secara keseluruhan, sungai sudah terpinggirkan dari prespektif pembangunan dan kehidupan masyarakat. "Itu terjadi mulai dari Daerah Aliran Sungai (DAS), Badan Sungai dari hulu, tengah, hilir, muara, wilayah pesisir, hingga perairan," ungkapnya.

Buktinya, sampai saat ini proses perusakan kualitas air di sungai masih tetap berjalan. Mulai dari penggundulan hutan, pembangunan perumahan di bantaran sungai, sampai pemanfaatan air untuk industri air minum yang semena-mena. Keruwetan persoalan itu juga ditambah dengan penanganan dan pengelolaan permasalahan sungai yang bersifat sektoral.

"Pada masa awal pembangunan, berbagai kawasan di perkotaan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat. Pertumbuhan tersebut tidak terkendali, tidak sesuai dengan rencana tata ruang, tidak serasi dengan lingkungan, dan tidak selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan," keluh Agus.

Akibatnya, timbul masalah ketika lahan semakin terbatas. Masyarakat lalu menjadikan tepian sungai sebagai alternatif pemukiman, khususnya bagi kaum urban berpenghasilan rendah.

Persoalan lain yang juga menambah ruwetnya pengelolaan sungai di Indonesia, menurut Agus, adalah pergeseran paradigma akibat desakan modal. Hal itu mengakibatkan terbatasnya akses rakyat terhadap air. “Air yang awalnya sebagai public goods sekarang menjadi economic goods,” jelasnya.

back to top