Menu
Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun Menderita

Korban Montara: Cukup Sudah 9 Tahun…

Kupang-KoPi| Rakyat kor...

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan Mahasiswa HI UMY ke Tiongkok

Tulisan “Diplomasi Panda” Hantarkan…

Bantul-KoPi| Nur Indah ...

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Sehat

Cegah Depresi Dengan Gaya Hidup Seh…

Jogja-KoPi| Depresu bis...

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa Untuk Anak Desa Gamplong

Mahasiwsa UGM Beri Pelatihan Bahasa…

Jogja-KoPi| Unit Kegiat...

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banyak Investasi India di Jatim

Gubernur Jatim Harapkan Lebih Banya…

New Delhi-KoPi| Gubernu...

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kota Magelang

Bakti Sosial KBBM Bersih Sungai Kot…

Magelang-KoPi| Menyambu...

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi Dilema

Sila Kelima Pancasila Masih Menjadi…

Bantul-KoPi| Kemerdekaa...

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA KOMPENSASI BUKAN CSR

GUBERNUR,DPRD DAN RAKYAT NTT MINTA …

Kupang-KoPi| Gubernur N...

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gelar Workshop dan Pelatihan Make Up

Mahasiswa Teknik Industri UAJY Gela…

Jogja-KoPi| Mempunyai w...

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasan Bisnis Pada Calon Startup UGM

Mantan CEO Schlumberger Beri Wawasa…

Jogja-KoPi| Mantan CEO ...

Prev Next

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Sebelum Gunung Merapi meletus 2010, wilayah Wonolelo Kabupaten Magelang adalah daerah yang indah. Daerah ini juga menjadi wilayah resapan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat baik di hulu maupun hilir. Sungai Pabelan juga mengalir lancar termasuk memberikan keindahan tempat wisata Kedung Kayang. Namun, saat ini-kehancuran telah di depan mata akibat tambang pasir yang tak terkendali.

Magelang-KoPi| Wonolelo, bila Anda belum tahu, terletak di sekitar jalan tembus Magelang-Boyolali. Sekitar 5 km dari Gardu Pandang Merapi, Ketep Kabupaten Magelang atau berada di sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu.

Lima tahun lalu, jika kita ke Boyolali melewati jalan tembus Magelang-Boyolali, kita akan menemukan jalan yang halus dan suasana udara yang segar di antara pemandangan yang hijau. Namun, setelah penambang pasir beralih dari Sungai Pabelan bawah ke atas baru-baru ini, kita hanya menemui jalan-jalan yang rusak dan meneror, udara yang bertuba dan memedihkan mata serta harapan yang tanpa masa depan.

Anehnya, semua tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang merasa kuatir atau peduli. Bahkan ketika pemandangan di depan kita sudah begitu memperihatinkan. Pemerintah Kabupaten Magelang tak peduli, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tak peduli meskipun banyak masyarakat mulai terganggu dan mengeluhkan.

Konon, menurut kabar dari tokoh LSM di Magelang, tambang pasir di Kabupaten Magelang sebenarnya sudah tidak diizinkan apalagi daerah hulu seperti di hulu sungai. Tapi faktanya sebaliknya. Dalam waktu 24 jam ratusan truk pengangkut pasir mengangkut dan merusak jalanan dan bahkan ditarik pajak oleh pemda.

Gmbr: Mata Air Tuk Songo yang terancam mati

Jika membaca Undang-Undang No 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, eksploitasi seperti tambang pasir tidak boleh merusak ekologi wilayah setempat. Apalagi daerah yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Stretergis nasional (KSN). Semua aktivitas yang berkaitan dengan penambangan harus melalui Kajian Perencaanaan dan Penanggulangan Lingkungan Hidup (KPPLH) atau Amdal yang diatur oleh pemda.

Sayangnya, apa yang kita lihat tampak tanpa melalui itu semua. Kehancuran kawasan ekologi sungai utama hancur dan mengubah struktur lingkungan. Tebing-tebing runtuh digerus dengan alat berat. Termasuk rusaknya sumber mata air yang dikenal sebagai Tuk Songo dan Tuk Umbul. Debit mata air ini semakin mengecil. Jalan raya yang mengakses ke wilayah Boyolali atau ke Magelang yang seharusnya menjadi hak publik rusak dan berbahaya karena berlubang dan berpasir.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Yogyo Susaptoyono ketika diminta keterangan melalui WA sebagai wakil rakyat menolak memberikan tanggapan baik tertulis maupun tatap muka. Jadi, semua informasi ini menjadi terkesan memang sengaja dibiarkan. Aneh, kan? | Ranang Aji SP| Andi Setyaji NP|

back to top