Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang Featured

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Sebelum Gunung Merapi meletus 2010, wilayah Wonolelo Kabupaten Magelang adalah daerah yang indah. Daerah ini juga menjadi wilayah resapan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat baik di hulu maupun hilir. Sungai Pabelan juga mengalir lancar termasuk memberikan keindahan tempat wisata Kedung Kayang. Namun, saat ini-kehancuran telah di depan mata akibat tambang pasir yang tak terkendali.

Magelang-KoPi| Wonolelo, bila Anda belum tahu, terletak di sekitar jalan tembus Magelang-Boyolali. Sekitar 5 km dari Gardu Pandang Merapi, Ketep Kabupaten Magelang atau berada di sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu.

Lima tahun lalu, jika kita ke Boyolali melewati jalan tembus Magelang-Boyolali, kita akan menemukan jalan yang halus dan suasana udara yang segar di antara pemandangan yang hijau. Namun, setelah penambang pasir beralih dari Sungai Pabelan bawah ke atas baru-baru ini, kita hanya menemui jalan-jalan yang rusak dan meneror, udara yang bertuba dan memedihkan mata serta harapan yang tanpa masa depan.

Anehnya, semua tampak biasa-biasa saja. Tak ada yang merasa kuatir atau peduli. Bahkan ketika pemandangan di depan kita sudah begitu memperihatinkan. Pemerintah Kabupaten Magelang tak peduli, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tak peduli meskipun banyak masyarakat mulai terganggu dan mengeluhkan.

Konon, menurut kabar dari tokoh LSM di Magelang, tambang pasir di Kabupaten Magelang sebenarnya sudah tidak diizinkan apalagi daerah hulu seperti di hulu sungai. Tapi faktanya sebaliknya. Dalam waktu 24 jam ratusan truk pengangkut pasir mengangkut dan merusak jalanan dan bahkan ditarik pajak oleh pemda.

Gmbr: Mata Air Tuk Songo yang terancam mati

Jika membaca Undang-Undang No 32 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, eksploitasi seperti tambang pasir tidak boleh merusak ekologi wilayah setempat. Apalagi daerah yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Stretergis nasional (KSN). Semua aktivitas yang berkaitan dengan penambangan harus melalui Kajian Perencaanaan dan Penanggulangan Lingkungan Hidup (KPPLH) atau Amdal yang diatur oleh pemda.

Sayangnya, apa yang kita lihat tampak tanpa melalui itu semua. Kehancuran kawasan ekologi sungai utama hancur dan mengubah struktur lingkungan. Tebing-tebing runtuh digerus dengan alat berat. Termasuk rusaknya sumber mata air yang dikenal sebagai Tuk Songo dan Tuk Umbul. Debit mata air ini semakin mengecil. Jalan raya yang mengakses ke wilayah Boyolali atau ke Magelang yang seharusnya menjadi hak publik rusak dan berbahaya karena berlubang dan berpasir.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Yogyo Susaptoyono ketika diminta keterangan melalui WA sebagai wakil rakyat menolak memberikan tanggapan baik tertulis maupun tatap muka. Jadi, semua informasi ini menjadi terkesan memang sengaja dibiarkan. Aneh, kan? | Ranang Aji SP| Andi Setyaji NP|

back to top