Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

PTTEP DAN Ilmuwan Indonesia harus dipidanakan soal pencemaran Laut Timor

sumber: Sinar Harapan sumber: Sinar Harapan

Kupang-KoPi| Pemerintah harus menempuh jalur pidana dalam kasus pencemaran Laut Timor akibat tumpahan minyak di Blok Montara milik perusahaan PTTEP Australasia. Pasalnya, perusahaan patungan Thailand dan Australia itu tidak pernah secara langsung melakukan studi atau penelitian terkait tumpahan minyak dan gas yang merembes hingga ke kawasan pantai di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Demikian pandangan anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha dan Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Hermawi Taslim secara terpisah di Jakarta, Sabtu 15 April 2017 lalu.

Pihak perusahaan, kata Satya, menyebutkan tidak ada pencemaran di kawasan perairan Indonesia hingga ke pantai-pantai di NTT. Faktanya, ada ribuan nelayan yang terkena dampak pencemaran karena usaha budidaya rumput laut berhenti total akibat pencemaran tersebut.

“Ini perlu ketegasan pemerintah untuk memberikan sanksi pidana kepada perusahaan,” ujarnya.

Sebelumnya, anggota Fraksi Partai Golkar ini juga bersuara keras agar pemerintah Indonesia membekukan segala aktivitas induk perusahaan PTTEP jika tidak menunjukkan niat untuk menyelesaikan kasus pencemaran.

Pihak PTTEP dan Pemerintah Australia sediri mengatakan bahwa tumpahan minyak Montara tidak pernah sampai di pantai-pantai di Indonesia. Hal itu berdasarkan pada penelitian ilmiah beberapa ilmuwan yang disewa oleh PTTEP dari dua perguruan tinggi di Indonesia bahwa tumpahan minyak itu dibawa angin dan arus kencang dari arus lintas Indonesia (ARLINDO ) di tengah Laut Timor menuju laut lepas Samudera Hindia.

Sebaliknya, sejumlah ilmuwan Indonesia dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga melakukan penelitian untuk pemerintah dengan tegas menyatakan bahwa tumpahan minyak Montara telah mencemari pantai-pantai di Indonesia.

Bahkan, dengan argumentasi para ilmuwan tersebut Deputy I Kemenko Bidang Kemaritiman Havaz Oegroseno berani pasang badan untuk mengajukan gugatan kerusakan ekosistem terhadap PTTEP ke pengadilan di Indonesia.

Taslim menjelaskan jalur pidana harus dilakukan segera karena ada unsur yang sudah dilanggar BUMN Thailand tersebut. PTTEP sebagai induk perusahaan PTTEP Australasia pun mengakui belum pernah melakukan studi setelah ledakan dari anjungan Montara pada 21 Agustus 2009 itu. “Proses hukum pidana harus ditempuh karena ada unsur yang sudah terpenuhi,” katanya.

Dikatakan, pemerintah memiliki alasan kuat untuk membawa kasus ini masuk dalam perkara pidana dan bukan lagi masalah perdata agar kasus ini cepat selesai. Hal ini diperkuat lagi dengan dukungan sejumlah pakar yang membantu gugatan class action rakyat NTT di Australia juga sependapat dengan para ilmuwan yang membantu pemerintah Indonesia.

Sementara itu, Direktur Ocean Watch Indonesia (OWI) Herman Jaya mengatakan Indonesia harus menindaklanjuti janji pemerintah Australia melalui Menteri Luar Negeri Julie Bishop pada awal Maret 2017 lalu.

Ketika menyambangi Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Bishop menyebutkan salah satu komitmen yang akan diselesaikan kedua pihak adalah dampak tumpahan minyak di Laut Timor hingga ke wilayah NTT.

“Ini perlu tindak lanjut dan jangan sampai hanya sebatas komitmen. Rakyat NTT seakan-akan sengaja dibiarkan untuk terus menderita akibat pencemaran itu,” tegasnya.| Ria|YPTB

back to top